Saturday, August 31, 2013

Nasihat Setan Kepada Nabi Musa as

Nasihat Setan Kepada Nabi Musa as memberitahukan kita tentang bagaimana setan mampu menguasai diri manusia dan terjerumus dalam liang dosa. Berikut kisahnya:

Setan mendatangi Nabi Musa as seraya berkata, “Aku ingin mengajarimu seribu tiga nasihat.” Nabi Musa as menjawab apa yang kau ketahui, sesungguhnya aku lebih mengetahuinya. Karena itu aku tidak memerlukan nasihatmu.”

Malaikat Jibril kemudian turun dan berkata kepada Nabi Musa, “Wahai Musa sesungguhnya Allah berfirman: seribu nasihat setan adalah tipu daya. Namun dengarlah tiga nasihat darinya!”
Kemudian Nabi Musa as berkata kepada Setan, “Sampaikanlah tiga nasihat saja dari seribu tiga nasihat itu” setan berkata “Pertama, saat terlintas di hatimu niat untuk melakukan perbuatan baik, maka lakukanlah segera.

Karena jika engkau menundanya, aku akan membuatmu menyesal. Kedua, jika engkau duduk dengan wanita asing (bukan muhrim), maka jangan kau lupakan aku. Sebab aku akan memaksamu melakukan perbuatan zina. Ketiga, saat amarah menguasai dirimu, kendalikan. Sebab jika engkau tidak mengendalikan amarahmu, maka aku akan menimbulkan fitnah...aku telah menyampaikan tiga nasihat padamu, maka mohonkanlah kepada Allah ampunan dan rahmat-Nya untukku.”

Nabi Musa bin Imran as memohon kepada Allah ampunan bagi setan. Kemudian, terdengarlah suara, “Wahai Musa, Aku akan mengampuni setan dengan satu syarat; dia harus pergi ke makam nabi Adam as dan bersujud di hadapannya.”

Nabi Musa as menyampaikan perintah Allah kepada setan. Setan berkata, “Wahai Musa, saat Adam masih hidup, aku tidak bersedia sujud di hadapannya. Karena itu, mana mungkin sekarang aku bersedia sujud di hadapan tanah kuburnya.”

Nabi Ibrahim dan Orang Kafir Majusi

Nabi Ibrahim as gemar menyambut dan menghormati tamu. Suatu hari, di tengah perjalanan, seorang Majusi singgah di rumah Nabi Ibrahim dan hendak menjadi tamunya. Nabi Ibrahim as mengatakan kepadanya “Jika Anda menerima islam, maka Anda saya terima sebagai tamu, jika tidak, saya tidak bisa menerima Anda sebagai tamu.” Orang Majusi itu pun pergi. 

Kemudian Allah swt mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, engkau mengatakan kepada orang Majusi itu, ‘Jika kamu tidak menerima Islam, maka kamu tidak berhak menjadi tamuku dan menyantap makananku. ‘Padahal, dia kafir selama 70 tahun, namun (Allah) tetap memberikan rezeki. Apa salahnya jika engkau memberikan makanan selama satu malam” 

Nabi Ibrahim pun menyesali perbuatannya. Beliau lalu pergi mencari orang Majusi itu. Setelah lama mencari akhirnya beliau menemukannya. Nabi Ibrahim pun kemudian dengan penuh hormat mengundangnya sebagai tamu. 

Orang Majusi itu pun kemudian menanyakan kepada Nabi Ibrahim tentang apa yang terjadi. Nabi Ibrahim kemudian menjelaskan tentang wahyu Allah tersebut. 

Orang Majusi itu berkata, “Benarkah Allah amat menyayangi saya? Sekarang, jelaskan kepada saya tentang ajaran Islam, sehingga saya bisa menerimanya.” Tak lama kemudian orang Majusi itu pun menerima Islam.

Mencari Rasulullah

Seorang Budak yang bernama Ruzbah adalah seorang kaya yang telah hijrah secara ruhaniah, ia meninggalkan keluarganya dan kehidupannya yang penuh dengan kemewahan. Ia juga meninggalkan keyakinannya untuk meninggalkan kepercayaan pemelihara api suci dalam agama Majusi. 

Ia berjalan ribuan mil untuk mencari pembawa kebenaran. Hingga, akhirnya seorang Nashrani memberitahukan kepadanya bahwa telah datang seorang Nabi pembawa kebenaran di Kota Yatsrib. Di kota itulah ia sekarang menanti kedatangan kekasih Allah yang ia nantikan. 

Tiba-tiba ia mendengar percakapan majikannya bahwa telah datang Muhammad di kota Quba. Ialah Muhammad, Nabi yang selama ini ia tunggu, Nabi yang Ruzbah rindukan. 

Tubuh Ruzbah bergetar mendengar hadirnya Nabi yang ia rindukan. Jarak antara Quba dan dan Yatsrib ada sekitar dua mil jauhnya. Ruzbah kemudian membawa sekantung kurma menempuh perjalanan ke Yatsrib. Langkahnya yang besar dan tegap membuatnya menempuh perjalanan begitu cepat. Semakin dekat dia dengan Muhammad, semakin bergetar tubuh Ruzbah. Dalam dadanya “Muhammad” terus bergumam. 

Hingga akhirnya ia menemui Nabi yang ia cari dan berkata: “Aku mendengar....engkau adalah orang saleh..ditemani oleh orang-orang asing. Ini ada beberapa butir kurma aku serahkan padamu sebagai sedekah.” Nabi saw itu kemudian membagikan kurma tersebut kepada para sahabatnya . dan Rasulullah tidak memakan kurma itu sebutirpun. 

Dalam batin, Ruzbah bergumam, “ini tanda yang pertama!” Keesokan harinya ia kembali lagi membawa sekantung kurma dan memberinya pada Muhammad saw yang sedang memasuki kota Madinah, “Ini hadiah untukmu.” Nabi saw mengucapkan terima kasih kepadanya. Ia membagikan kepada para sahabatnya dan ia ikut makan sebagiannya. “Ini tanda kedua,” bisik Ruzbah dalah hatinya. 

Ketika Rasullullah menshalatkan jenazah, Ruzbah lari ke belakangnya. Seakan akan beliau tahu apa yang dicari Ruzbah, Nabi saw melepaskan serban yang menutup punggungnya. Ia melihat tanda kenabian di antarak kedua bahunya. Ruzbah meloncat, mencium bahu itu, dan terus menerus menangis. 

Ia lepaskan kerinduannya kepada Al-Mushthafa dengan membasahi tubuhnya yang mulia dengan air matanya. Berceritalah ia tentang perjalanan panjangnya, ketika Rasulullah saw menanyai asal-usulnya. 

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Nabi saw memeluknya, dan menamainnya Salman. Salman bukan orang asing pertama yang yang menciumi Nabi saw untuk mengungkapkan kecintaannya. Kecintaan yang memberinya kekuatan untuk menempuh perjalanan panjang mencari kebenaran 

Kisah Utsman bin Affan

Kisah Utsman bin Affan tertulis dalam kitab Ath-Thahaqat. Kisah yang terdapat dalam kitab ini bercerita tentang kemampuan Utsman bin Affan menyebut hal-hal yang gaib yang hanya diketahui Allah swt dan orang-orang tertentu.

Peristiwa itu terjadi saat seorang pemuda datang hendak bertemu Sayyidina Utsman. Sebelumnya pemuda itu berpapasan dengan seorang wanita yang sangat menarik perhatiannya sehingga timbul perasaan gairah.

Perasaan pemuda itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah swt, dan mungkin juga oleh wanita tadi, tetapi Sayyidina Utsman berkata, “Masuk sekarang seorang pria dari kalanganmu, sedangkan padanya terdapat kesan zina”

Pemuda itu bertanya dengan agak marah, “Adakah wahyu turun sesudah Rasulullah saw?”

“Tidak, Cuma firasat seorang mukmin” jawab Utsman.

Ketika mengisahkan kejadian ini at-Tajus Subki berkata, “Apabila bersih hati seseorang, niscaya dia akan melihat cahaya kebenaran. Tiadalah jatuh pandangannya kepada susuatu melainkan dia mengetahuinya…”

Imam Madainy meriwayatkan dari Amr bin Utsman bahwa Utsman berkata, “Aku pernah datang ke rumah bibiku Urwa binti Abdul Muthalib yang sedang sakit. Tidak lama kemudian masuklah Nabi Muhammad saw, baginda mendatangi aku.”

“Mengapa kau lihat aku seperti itu, hai Utsman?” Tanya Rasul penuh rasa heran

“Sesungguhnya aku begitu kagum kepadamu dan kedudukanmu di antara kami dan apa yang diberitakan tentang engkau!” jawab Utsman.

Nabi mengucapkan kalimat, “Tiada Tuhan selain Allah”

“Demi Allah, aku merasa gemetar dengan kalimat itu. Kemudian beliau membaca ayat, ‘Wafis samaai rizqukum’ sampai akhir, kemudian beliau keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Lalu aku masuk islam,” kata Utsman.

Kisah Utsman bin Affan
Ibnu Saad meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim Taimy katanya, “Ketika Utsman bin Affan masuk islam, ayah saudaranya yang bernama al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah mengikatnya dengan tali sambil menghardik, ‘Apakah engkau tinggalkan agama nenek moyangmu dan masuk ke dalam agama baru? Demi Allah tidak akan aku lepaskan tali ini sampai engkau meninggalkan agama baru itu’”

Utsman menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun” ketika ayah saudaranya mengetahui kekerasan hati Utsman, beliau pun dilepaskannya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia didatangi seorang pria Mesir yang bertanya, “Tahukah engkau bahwa Utsman bin Affan melarikan diri saat perang Uhud?”

“Ya aku tahu,” jawab Abdullah bin Umar

“Tahukah engkau kalau Utsman tidak turut dalam perang Badar?” Tanya pria Mesir itu

“Ya aku tahu.”

“Tahukah kau kalau Utsman tidak hadir dalam Baiat ar-Ridhwan?”

“Ya aku tahu”

“Allahu Akbar” kata orang tersebut.

“Mendekatlah kemari,” tegas Abdullah. “Aku akan jelaskan kepadamu mengenai larinya Utsman dalam perang Uhud. Aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya. Mengenai tidak ikutnya ia dalam perang Badar, Utsman harus merawat putri Rasulullah saw yang sedang sakit. Rasulullah berkata kepadanya, ‘Engkau mendapat pahala dan jatah harta rampasan sama dengan orang yang turut dalam perang Badar.’”

“Mengenai tidak hadirnya Utsman dalam Baiat ar-Ridhwan karena Nabi saw tidak mendapatkan orang yang lebih dihormati oleh penduduk kafir Mekkah selain Utsman, sehingga Rasulullah mengutusnya sebagai delegasi kaum muslimin untuk bertemu dengan penduduk kafir Makkah. Baiat ar-Ridhwan terjadi saat Utsman sedang telah berangkat menuju Makkah. Karena itu, Rasulullah mengangkat tangan kanan sambil bersabda, ‘Ini adalah tangan Utsman.’ Nabi menepukkan tangan tangannya pada tangan kirinya sambil bersabda, ‘Ini adalah Baiat Utsman!’” jelas Abullah

Lalu, Abdullah bin Umar berkata kepada orang mesir itu,“Camkanlah penjelasanku ini!”

Tidak heranlah beliau Utsman bin Affan mendapatkan kedudukan yang amat mulia di dunia dan di akhirat. Begitu juga dengan kewaliannya yang terlihat pada kisah berikut,

Dari ibnu Umar bahwa Jahjah al-Ghifary berdiri lalu berjalan menuju Utsman yang tengah berkhutbah di atas mimbar. Lalu, Jahjah mengambil tongkat dari tangan Utsman dan memukulkannya pada paha Utsman sampai paha Utsman robek dan tongkat itu patah. Dalam watu kurang dari setahun, Allah menimpakan pada Jahjah belatung di tangannya sampai ia mati karenanya.

Kisah Umar bin Khaththab dan Sungai Nil

Umar bin Khathab ialah seorang khalifah yang bergelar amirul mukminin. Kewaliannya tidak diragukan lagi melihat karunia yang diberikan Allah swt kepadanya. Salah satu mukjizat yang ada padanya ialah kemampuannya untuk bercakap dengan penghuni kubur dan juga kemampuannya untuk memerintah bumi.

Umar bin Khaththab dilahirkan setelah Nabi Muhammad saw dilahirkan. Umar bin Khathab ialah pembuka tirai dakwah islam secara terang-terangan di bumi Arab. Sebelum Umar memeluk islam pada tahun ke-5 sebelum hijrah, Umar bin Khaththab telah membuka negeri Syam, Iraq, al-Quds, Madyan, dan Mesir.

Kisah Umar bin Khaththab yang menakjubkan ialah ketika sungai nil tidak mau mengalirkan airnya. Sungai Nil setiap tahun meminta tumbal gadis jelita untuk dikorbankan. Tradisi ini terjadi pada zaman Jahiliyyah.


Kisah Umar bin Khaththab dan Sungai Nil
Banyak penduduk mendesak pemerintah islam untuk melaksanakan ritual pengorbanan agar sungai Nil kembali mengeluarkan airnya. Gubernur mesir saat itu, Amr bin `Ash menolak sama sekali permintaan itu. Mereka pun menunggu selama tiga bulan, namun tetap saja sungai Nil belum mengalirkan airnya.

Masyarakat mulai resah. Keluhan rakyat kepada Amr semakin menjadi-jadi. Akhirnya Amr mengirim surat kepada Sayyidina Umar bin Khathab untuk meminta nasihatnya. Umar bin Khathab membalas surat itu dengan menyertakan sebuah lampiran

“Dari Umar Amirul Mukminin kepada sungai Nil Mesir. Wahai Nil, seandainya engkau mengalirkan air dari kemampuan engkau sendiri, maka engkau tidak akan dapat mengalirkan air dan andainya Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa yang menguasai engkau, maka kami mohonkan kepada-Nya supaya engkau mengalirkan air”

Atas perintah Sayyidina Umar bin Khathab, Amr bin `Ash pun melemparkan kertas itu ke dalam sungai Nil. Ajaib sungai Nil kembali mengalirkan airnya seperti biasanya.

Kisah Seorang Raja yang Masuk Islam

Alkisah, seorang raja memiliki menteri yang cerdik dan pandai. Menteri tersebut berusaha menjelaskan kepada sang raja bahwa langit dan bumi adalah ciptaan Allah swt.

Menteri itu mengatakan bahwa tidak mungkin alam nan luas ini terjadi tanpa adanya pencipta. Dan mustahil sebuah bangunan berdiri tanpa ada seorang yang merancangnya. Namun, meskipun segala argumen telah disampaikan secara gamblang, sang raja tetap tidak mau menerimanya.

Akhirnya sang menteri membangun sebuah taman yang luas di luar kota. Setelah taman itu selesai, sang raja suatu hari ke luar untuk berburu. Di tengah jalan dia melihat taman nan megah tersebut. Dia merasa kagum dan bertanya kepada sang menteri, “Kapan dan siapa yang telah membangun taman megah ini?”

Menteri itu berkata, “Tida ada seorang pun yang membangunnya; taman ini tercipta dengan sendirinya.” Raja memprotes dengan keras perkataan sang menteri, “Bagaimana mungkin sebuah taman tercipta tanpa ada yang membangunnya?”

Menteri itu menjawab, “Pabila bangunan kecil ini mustahil tercipta tanpa ada yang menciptakannya, lantas mungkinkah langit, bulan, matahari dan bintang tercipta dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakannya?”

Mendengar perkataan itu raja menjadi sadar akan keberadaan Allah yang telah menciptakan alam semesta. Kemudian raja itu menjadi muslim dan mengakui konsep tauhid.

Kisah Seorang Pengangguran Yang Terus Berdoa

Di masa Nabi Daud as, hiduplah seorang pengangguran. Dia selalu mengulang-ngulang doa, “Ya Allah, anugerahkanlah padaku rezeki yang halal dan luas.” Orang lain menghina dan menertawakannya. Mereka menganggap pengangguran ini dungu, karena memohon rezeki dari Allah dan tidak mau bersusah-payah. 

Padahal semua orang bekerja keras, mambanting tulang, memeras keringat dalam mencari nafkah. Bahkan Nabi Daud as pun bekerja keras hanya untuk mendapatkan sepotong roti. Orang-orang selalu mencaci maki dirinya. 

Hingga suatu hari, pengangguran itu kelaparan dan kehausan. Namun, dia hanya duduk di rumah dan sibuk berdoa. Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan seekor sapi masuk ke dalam rumahnya. Laki-laki itu berkata, “Inilah rezeki yang halal yang ku mohon dari Allah” kemudian dia pun bangkit, kemudian menjatuhkan sapi itu di atas tanah, dan menyembelihnya. Dia bakar sekerat daging dan memakannya. 

Ketika pemilik sapi tahu, ia pun segera berlari menuju rumah pengangguran itu. Dia melihat sapinya sudah disembelih. Dia pun bertanya, “Mengapa kau bunuh sapiku?” Lelaki itu berkata, “Selama beberapa waktu, saya meminta rezeki kepada Allah tanpa perlu bersusah payah. Hari ini dia mengirimkannya untukku. Allah mengabulkan pemohonanku” 

Pemilik sapi itu pun memukul kepala lelaki itu beberapa kali. Kemudian dia menyeret dan membawanya ke hadapan Nabi Daud as dan bertanya, “ Wahai Nabi Allah, tanyai lelaki ini kenapa ia membunuh sapiku?” 

Nabi Daud pun bertanya, “Kenapa kau membunuh sapinya?” 

Lelaki miskin itu menjawab, “Wahai nabi Allah, tanyailah semua orang; mereka tahu bahwa saya, selama beberapa waktu, telah memohon kepada Allah rezeki yang halal, hingga akhirnya pada hari ini Dia memberikannya untukku.” 

Lelaki itu menambahkan, “Wahai Nabi Allah,apakah janji Allah itu bohong? Bukankah Allah swt berfirman: Berdoalah kalian, niscaya aku mengabulkannya?” 

Nabi Daud berkata kepada sang pemilik sapi, “Sekarang pergilah dan kembali esok pagi!” 

Malam harinya, nabi Daud as bermunajat kepada Allah dan memohon petunjuk atas persoalan itu. Allah swt pun menjelaskan kepada Nabi Daud as tentang hukum batin persoalan. 

Esok harinya, pemilik sapi dan lalaki miskin itu dibawah ke pengadilan. Pemilik sapi itu berteriak, “Cepat kembalikan sapiku, hai lelaki pengangguran!” 

Nabi Daud as hadir di pengadilan untuk memberikan putusan. Beliau berkata kepada pemilik sapi itu, “Kamu adalah lelaki yang kaya dan lelaki ini orang miskin. Berikan sapi itu padanya dan relakanlah untuknya.” 

Pemilik sapi berkata, “Wahai Nabi Allah, saya tetap akan menuntut sampai lelaki itu membayar ganti rugi. Orang-orang mengharapkan harta yang kumiliki. Jika setiap orang mengambil sebagian hartaku, aku akan menjadi miskin dan meminta-minta” 

Nabi Daud as berkata, “Pergi dan serahkan seluruh hartamu kepada lelaki miskin ini! Dan bersyukurlah kepada Allah tidak menghukummu sampai detik ini. Jika kamu tidak memberikan hartamu, maka keadaanmu akan menjadi lebih buruk.” 

Mendengar perkataan itu, pemilik sapi berteriak histeris dan berkata, “Hukum apa yang telah diputuskan Nabi Daud as ini? Syariat apa ini? Mengapa Anda berbuat zalim kepadaku?” 

Nabi Daud as berkata, “Inilah hukum Allah. Seluruh harta milikmu berasal dari lelaki miskin ini. Demikian pula dengan semua budakmu; ialah miliknya juga.” 

Pemilik sapi itu memukul-mukul kepalanya sendiri dan berlari kesana-kemari. Dia mengeluhkan keputusan Nabi Daud as. Orang lain juga mengecam keputusan Nabi Daud as. Di mata mereka, Nabi Daud as tidak pernah berbuat zalim seperti yang terjadi pada hari itu. 

Nabi Daud as pun berkata pada orang-orang, “Sebelumnya, orang yang menuntut ini adalah budak dari ayah lelaki miskin itu. Suatu ketika, mereka pulang dari berpergian dan sampai di bawah pohon. Lelaki jahat ini (pemilik sapi) membunuh sang majikan dan merampas seluruh hartanya. Kemudian dia menyembunyikan pedang pendek yang digunakan untuk membunuh di bawah pohon itu.” 

Orang-orang pun ingin membuktikan perkataan Nabi Daud as. Mereka pergi ke pohon itu dan menggali tanah di bawahnya. Akhirnya mereka menemukan pedang pendek yang digunakan untuk membunuh. 

Kisah Seorang Budak dan Tuannya

Dikisahkan bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki pemabuk yang mengundang teman-temannya. Ia memanggil budaknya dan memberi uang sebanyak empat dirham agar ia membeli buah-buahan untuk dihidangkan kepada teman-temannya tersebut.

Di tengah perjalanan, budak tersebut lewat di depan Manshur bin Ammar, seorang ahli zuhud, yang sedang mengucapkan kata-kata, “Siapakah orang yang mau memberikan empat dirham kepada seorang fakir yang terdampar ini agar aku memanjatkan empat permohonan doa untuknya?”

Mendengar ucapan tersebut, kemudian budak itu memberikan empat dirham yang ia bawa itu, lalu Manshur bertanya, “Apa yang engkau ingin aku panjatkan untukmu?”

Kisah Seorang Budak dan Tuannya
Budak itu menjawab, “Pertama, aku mempunyai seorang majikan yang kejam dan aku ingin lepas dari tangannya. Kedua, semoga Allah mengganti empat dirham itu. Ketiga, semoga Allah memberi tobat kepada tuanku. Keempat, semoga Allah memberikan ampunan kepadaku, kepada tuanku, kepada engkau, dan kepada kawan-kawannya”

Manshur bin Ammar pun memanjatkan doa, sebagaimana yang budak itu minta, sementara budak itu pulang kembali ke rumah majikannya. Melihat budaknya kembali dengan tangan kosong, sang tuan membentak dengan nada tinggi, “Mengapa engkau terlambat dan mana buah-buahan yang aku pesan?”

Budaknya hanya terdiam, kemudian menceritakan pertemuannya dengan Manshur bin Ammar, sang ahli zuhud, dan bagaimana ia memberikan uang empat dirham itu kepadanya. Kemarahan tuannya pun mereda, lalu ia bertanya, “Apa doa yang engkau minta agar dipanjatkan kepada Allah?”

Ia menjawab, “Aku memohon agar aku dibebaskan dari perbudakan”

Tuannya berkata, “Aku telah memerdekakanmu sekarang, semata karena Allah,” tuannya bertanya lagi, “Apa doa kedua yang engkau minta agar dipanjatkan kepada Allah?”

Budak itu menjawab, “Semoga Allah mengganti untukku empat dirham itu”

“Aku akan memberimu empat ribu dirham,” ujarnya dan kembali bertanya, “Apa doa ketiga yang engkau minta agar dipanjatkan kepada Allah?”

Budak itu menjawab, “Semoga Allah memberi tobat kepada engkau”

Mendengar jawaban bekas budaknya yang baru saja ia merdekakan, lelaki itu mengangguk-angguk kepala seraya menangis dan membanting gelas yang ia gunakan untuk minum-minuman keras. Setelah itu ia berkata, “Kini aku telah bertobat, tidak akan mengulangi lagi”

Sang majikan pun termenung sejenak dan bertanya lagi, “Apa doa keempat yang engkau minta agar dipanjatkan kepada Allah?”

Ia menjawab, “Semoga Allah memberi ampunan kepadaku, kepada engkau, dan kepada kawan-kawan engkau”

Tuannya kemudian berkata, “Yang ini hanya milik Allah, aku tidak dapat berbuat apa pun. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun”

Kisah Seorang Budak dan Tuhan

Seorang laki-laki hendak membeli seorang budak. Budak itu berkata, “Saya harap Ada memenuhi syarat yang aku berikan: Pertama, bila waktu shalat tiba, jangan menghalangi saya shalat. Kedua, saya akan melayani Anda pada siang hari, bukan malam hari. Ketiga, berikanlah satu ruang khusus untuk saya dan tidak ada yang boleh datang ke sana.”

Pembeli tersebut berkata, “Aku bersedia memenuhi tiga syarat yang kau ajukan. Sekarang pililah ruangan yang kau suka.” Kemudian, budak itu memilih bangunan tua dan hampir rubuh. Pembeli itu merasa heran dan bertanya, “Mengapa engkau memilih bangunan tua dan hampir rubuh ini?” sang budak berkata “Rumah yang hampir rubuh lebih memudahkan seseorang dalam mengingat Allah swt”

Setiap malam, budak itu menyendiri di kamarnya. Menangis dan merendahkan diri di hadapan Allah swt.

Suatu malam majikan dari budak tersebut mengadakan pesta maksiat di rumahnya. Banyak tamu yang datang. Mereka bersuka ria di taman rumah. Di tengah pesta, pandangan mereka tertuju pada kamar sang budak. Mereka melihat secercah cahaya benderang memancar ke langit dari kamar budak itu. Tampaknya budak itu tengah bersujud dan bermunajat kepada Allah swt. Dalam sujudnya ia berseru, “Duhai Tuhanku, Engkau mewjibkan aku mengabdi kepada majikanku di siang hari. Karena itu, aku hanya bisa menyembah-Mu di malam hari. Ampunilah dosa dan kesalahanku.”

Sang majikan tertegun melihat kekhusukan ibadah budaknya. Dia mengamati dan mendengarkan suaranya hingga terbit fajar. Setelah matahari terbit, cahaya yang memancar dari kamar sang budak mulai sirna. Segeralah majikan itu datang kepada istrinya dan menceritakan kejadian menakjubkan yang baru disaksikannya. Pada malam berikutnya sang majikan dan istrinya melihat cahaya terpancar dari kamar sang budak yang sedang bersujud dan bermunajat kepada Allah swt.

Tatkala fajar menyingsing, majikan tersebut memanggil sang budak dan bertanya kepadanya, “Engkau kami bebaskan semata-mata karena Allah, agar engkau bisa mengabdi dan beribadah kepada-Nya siang dan malam.” Kemudian majikan itu menceritakan kejadian menakjubkan yang mereka saksikan.

Ketika budak itu mengatahui bahwa majikannya telah mengetahui keadaannya, dia mengangkat kedua tangannya seraya berkata “Wahai Tuhanku, aku telah memohon kepada-Mu agar tidak mengungkapkan rahasiaku dan menampakkan diriku. Dan jika Engkau telah menyingkapkannya, maka panggillah aku untuk menghadap-Mu.”

Doa budak itu pun terkabul. Seketika itu pula ia terjatuh ke tanah dan jiwanya terpisah dari raganya.

Kisah Sedekah Membawa Berkah

Seorang wanita di masa Nabi Daud as, membawa keluar dari rumahnya tiga potong roti dan tiga kilo gram gandum. Di tengah jalan ia bertemu pengemis yang membutuhkan bantuan. Wanita itu memberikan tiga potong roti kepada pengemis.

Dia berkata pada dirinya sendiri, "Gandum ini akan aku masak menjadi roti."Tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan gandum wanita itu.

Wanita itu sedih atas apa yang terjadi. Dia pun datang menghadap Nabi Daud as dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Nabi Daud as mengutus wanita itu ke tempat Nabi sulaiman as untuk memperoleh jalan keluar. Ketika wanita itu menceritakan apa yang dialaminya, Nabi Sulaiman memberikan seribu dirham padanya.

Wanita itu kembali datang ke rumah Nabi Daud dan berkata, "Putramu memberikan seribu dirham padaku"

Nabi Daud as berkata, "Pergilah ke tempat Nabi Sulaiman dan kembalikan uang seribu dirham itu, katakan padanya, 'saya tidak menginginkan dirham, saya ingin mengetahui sebab kejadian ini,"

Tatkala wanita itu datang lagi, Nabi Sulaiman berkata padanya, "Saya sudah memberimu seribu dirham dan jangan meminta sesuatu yang lain dariku."

Wanita itu berkata, "Saya tidak menginginkan dirham."

Nabi Sulaiman memberikan seribu dirham lagi kepada wanita itu. Lalu kembali ke rumah Nabi Daud dan menceritakan apa yang terjadi.

Nabi Daud as mengutus wanita itu untuk pergi lagi ke tempat Nabi Sulaiman as dan berkata, "Kembalikan uang dirham itu kepada beliau dan katakan, 'Saya tidak menginginkan dirham. Akan tetapi, mohonlah kepada Allah untuk mendatangkan angin dan menanyakan padanya;apakah ia menerbangkan gandum itu atas perkenan Allah ataukah tidak?"

Wanita itu kembali ke tempat Nabi Sulaiman as. Kemudian Nabi Sulaiman as memanggil malaikat yang mengatur angin dan menanyakan kepadanya tentang gandum itu.

Angin berkata, "Saya menerbangkan gandum itu atas perkenan Allah. Sebab selama beberapa hari seorang pedagang terkatung-katung di atas kapalnya di tengah lautan, dan binatang-bintang peliharaannya kelaparan. Lantas pedagang itu bernazar bahwa pabila seseorang memberinya gandum pada saat itu, maka dia akan memberinya sepertiga dari barang dagangannya. Kemudian aku menerbangkan gandum tersebut atas perintah Allah, agar dia memenuhi janji dan nazarnya."

Selang beberapa masa, pedagang tersebut ditemukan. Nabi Sulaiman as bertanya padanya perihal apa yang dialaminya di tengah lautan. Kemudian Nabi Sulaiman memanggil wanita itu dan beliau menyuruh si pedagang untuk menepati janji dan nazarnya dengan cara menyerahkan sepertiga barang dagangannya kepada wanita itu. Nilai harta yang diberikan kepada wanita itu mencapai 360.000 dinar. Wanita itu pun amat bahagia dan pulang ke rumahnya.

Pada saat itulah Nabi Daud as berkata pada puteranya, Nabi Sulaiman as, "Wahai Puteraku, barangsiapa menghendaki transaksi yang menguntungkan, maka dia harus bertransaksi dengan Allah Yang Maha Pemurah."

Kisah Saat Nabi Sulaiman as Menangkap Iblis

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman as memohon kepada Allah, “Ya Allah, Engkau telah menundukkan padaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung, dan para malaikat. Ya Allah aku ingin menangkap dan memenjarakan iblis, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.”

Allah swt kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, “Wahai Sulaiman tidak ada kebaikannya jika iblis ditangkap.” Nabi Sulaiman as tetap memohon, “Ya Allah, keberadan makhluk terkutuk tidak memiliki kebaikan di dalamnya.”

Allah swt berfirman, “Jika iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan.”
Nabi Sulaiman as berkata, “Ya Allah, aku ingin menangkap makhluk ini selama beberapa hari saja.”
Allah swt berfirman, “Bismillah, tangkaplah iblis!” kemudian Nabi Sulaiman Menangkap Iblis kemudian memenjarakannya.

Nabi Sulaiman as juga merajut tas. Beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Suatu hari, beliau membuat tas untuk dijual ke pasar. Dari hasil penjualan tas, beliau hendak membeli gandum untuk membuat roti. Padahal dari beberapa riwayat disebutkan bahwa setiap hari, di dapur istana Nabi Sulaiman dimasak 4.000 unta, 5.000 sapi, dan 6.000 kambing. Meski demikian Nabi Sulaiman as tetap membuat tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

Keesokan harinya Nabi Sulaiman menyuruh anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar. Mereka melihat pasar itu tutup dan tidak ada yang menjual sama sekali. Mereka kembali dan mengabarkan hal tersebut kepada Nabi Sulaiman as.

Nabi Sulaiman as bertanya, “Apa yang telah terjadi?” mereka menjawab, “Kami tidak tahu.”
Ya, tas buatan Nabi Sulaiman as tidak bisa dijual. Malam itu, Nabi Sulaiman as hanya minum segelas air. Hari berikutnya anak buah Nabi Sulaiman as kembali menjual tas itu ke pasar. Mereka kembali membawa berita bahwa pasar tetap tutup dan semua orang pergi ke pekuburan; sibuk menangis dan meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke alam akhirat. Nabi Sulaiman as bertanya kepada Allah swt, “Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari nafkah?”

Allah swt mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, “Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankah sebelumnya sudah Kukatakan kepadamu bahwa menangkap Iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?” Mendengar itu, Nabi Sulaiman as segera membebaskan Iblis.

Esok harinya, orang-orang bergegas ke pasar dan membuka toko mereka masing-masing. Mereka pun sibuk bekerja dan mencari nafkah.

Sesungguhnya Iblis ketika diturunkan ke bumi, dia bertanya kepada Allah sebagai berikut:

Iblis berkata: "Ya Tuhanku! Dimanakah tempat bagiku berkumpul?." 

Firman Allah SWT : "Wahai iblis! tempatmu berkumpul adalah di pasar-pasar, tempat-tempat hiburan (pusat perbelanjaan atau Mall, klub malam, pesta-pesta, acara maksiat) dan sebagainya."

Kisah Rasulullah dan Thalhah

Alkisah, suatu pagi di Madinah Rasulullah berjalan menyapa orang-orang yang ia temui dengan memberikan gelar kepada mereka. Rasullah saw mengucapkan salam terlebih dahulu dan terdengar oleh orang-orang sekitarnya. Bahkan, Abu Dzarr yang bersembunyi di balik pohon berharap dapat mengucapkan salam lebih dulu kepada Rasulullah, tak luput dari pengetahuan Rasulullah saw. 

Tiba tiba seorang anak muda berlari ke arah Nabi. Brak! Ia menjatuhkan badannya ke arah Nabi. Dalam dekapan yang erat ia mencium janggut Nabi seakan tidak ingin berpisah dengan jasad yang mulia itu. 

“Ya Rasul Allah, mintalah sesuatu dariku demi Dia yang mengutusmu, permintaanmu akan ku penuhi dengan setulus hati” 

Pemuda itu ialah Thalhah, pemuda yang di dadanya berkecamuk kerinduan kepada Nabi. Rasullullah kemudian melepaskan pelukan Thalhah, dan dari sabdahnya yang merdu keluar perintah yang tak disangka: 

“Kalau begitu, pergilah sekarang,... dan bunuh ayahmu untukku..” 

Thalhah kemudian melepaskan pelukannnya dari Nabi, dan seketika beranjak dari hadapan Nabi untuk segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan Nabi kepadanya. Niatnya sudah bulat, keinginan melaksanakan perintah Nabi ialah bukti cintanya kepada Rasulullah. 

Begitu Thalhah bergerak, Nabi tersenyum dan kembali bersabda: 
“Kemarilah Thalhah. Tidak pernah aku diutus untuk memutuskan silaturahim. Adapun sabdaku tadi sesungguhnya hanya menguji. Dan sungguh telah terbukti kecintaanmu yang sejati.” 

Nabi memeluk Thalhah memuji kecintaannya. Thalhah pun bergegas undur diri. Nabi meneruskan langkahnya menyapa setiap umatnya dan dalam setiap sapanya ia mendoakan semua umat yang mencintainya. 

Begitulah rindu Thalhah kepada Nabi. Thalhah tinggal di sebuah kampung yang berjarak tiga desa dari Madinah, namun ia selalu menyempatkan diri hadir di setiap majelis Rasulullah saw. 

Hingga pada suatu hari, Thalhah jatuh sakit. Tubuhnya tak dapat ia gerakkan, wajahnya tak dapat berpaling ke kiri dan ke kanan. Dalam sakitnya, matanya nanar menatap langit. Kerinduannya kepada Nabi telah membuat rongga dadanya semakin sempit. 

Waktu itu bada isya. Musim dingin menyelimuti Jazairah Arab. Seusai majelis sahabat Rasul merapatkan tempat. Dari kerumunan sahabatnya Rasul mencari Thalhah perindu sejati? Salah seorang sahabat menjawab “Ia terbaring sakit ya Rasulullah”. 

Dengan cepat Nabi menjawab: “Bawa aku ke rumahnya!” 

Udara dingin tak terperih oleh para sahabat Nabi, sedangkan Nabi bergegas menuju sahabat setianya. Wajah Nabi penuh duka menyaksikan sahabat setianya terbaring menutup mata. Nabi mencium kening Thalhah, mendoakannya dan memintah orang tuanya untuk tidak membangunkannya. Kepada kedua orang tua Thalhah, Nabi berkata: “Sungguh telah ku lihat Thalhah akan segera berpulang. Tangan kasih Tuhan akan segera memeluknya. Bila ia tersadar sebelum itu, kabarkanlah kepadaku. Aku ingin menghadiri jenazahnya. Aku ingin men-shalatinya.” 

Setelah itu Rasul berniat kembali ke Madinah, namun malam yang begitu dingin dan gelap. Membuat Nabi dan para sahabatnya beristirahat di kampung Bani Salim, sebuah kampung yang tidak jauh dari rumah Thalhah dan tidak juga jauh dari Madinah. 

Di rumah Thalhah, Thalhah terbangun dari tidurnya. Matanya berkaca-kaca ketika ia tahu bahwa Rasullullah kekasih hatinya datang melihatnya. Orang tuanya pun menyampaikan pesan agar seseorang menyampaikan hal ini kepada Nabi sesuai yang diamanatkan Nabi ketika Thalhah sadar. Thalhah berkata: “Kalau begitu pergilah sekarang. Panggillah Rasulullah untukku” 

Begitu saudara Thalhah hendak meluncur, maka meluncur pula lah kata-kata Thalhah seperti perkataan Nabi yang terdahulu disampaikan kepadanya: “Saudaraku, kemarilah. Aku hanya bercanda. Tidak pernah aku memintah sesuatu yang dapat memberatkan Nabi. Malam begitu dingin. Aku tidak mau Nabi mendrita karenaku. Aku tidak mau Nabi bersusah payah menemuiku.” 

Saudaranya membantahnya, “Tapi Nabi telah mengabarkan bahwa ajalmu akan segera datang.” 

Thalhah menjawab dengan penuh kerinduan: “Bukankah ia akan datang pada setiap di antara kita? Sungguh aku ingin berjumpa dengan Penciptaku. Kekasih sejati kekasihku, Rasulullah saw. Rasul sudah menjengukku. Tiada kebahagiaan yang lebih berarti lagi.” 

Saudaranya bertanya: “Bagaimana kami hendak berkata kepada Nabi, jika permintaanya tidak terpenuhi?” 

“Sampaikan kepadanya, kehadiran beliau cermin kedermawanan. Anugerah untukku menjelang perpisahan. Janganlah juga engku mengundang Rasul bila telah datang padaku ketentuan.” 

“Bagaimana dengan pesan Nabi? Beliau ingin menshalatkanmu dan menguburkanmu” 

“Aku tahu. Namun, hatiku takkan sampai membiarkan Nabi menghadang malam. Perasaanku tak mengisinkan membangunkan Nabi dari peristirahatannya. Aku tak mau hawa dingin mengganggunya. Aku tak mau bahaya menghadangnya. Bila sudah datang waktuku sampaikan salam rinduku padanya. Mohonkan padanya permintaanku: Sampaikan ampunan Tuhan bagiku” 

Malam itu menjelang sahur, diantar kecintaanya kepada sang Nabi, Thalhah akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, “Ya Allah, Ya Rasulullah..” 

Setelah itu, Thalhah kemudian dishalatkan oleh keluarganya dan dikebumikan malam itu juga. Sesuai pesan terakhirnya, tidak ada seorang pun yang memberitahukan hal ini kepada Rasulullah. 

Menjelang subuh, Nabi yang bermalam di Bani Salim, berangkat menuju Madinah. Usai shalat berjamaah, Nabi bertanya kepada para sahabatnya: “Bagaimanakah gerangan kabar Thalhah, sahabat yang kurindukan?” 

Ya Rasulullah, kami tahu engkau tahu sesuai kabar kangit yang sampai kepadamu. Tapi engkau hendak ajarkan kepada kami, makna sejati kesetiaan. Hakikat dari murninya kecintaan. 

Mendengar Nabi bertanya, seorang kerabat Thalhah tampil ke muka “Ya Rasulullah, ia berpulang ke rahmat Allah” 

“Mengapa aku tidak diberi tahu? Bukankah begitu pesanku padamu?” sahut Nabi menelisik. 

“Ya Rasulullah, maafkan kami. Demikian itu adalah permintaannya. Thalhah bermohon agar kabarnya tidak sampai kepadamu. Maafkan kami ya Rasulullah. Semua karena kecintaan Thalhah kepadamu...” 

Kerabat Thalhah menyampaikan pesan terakhir Thalhah kepada Rasulullah. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya, tidak memikirkan keluarganya. Yang ia kenang hingga katup matanya ialah kecintaannya kepada Rasulullulah. Ia tidak ingin dirinya menjadi sebab Rasulullah bersusah payah. 

Begitu usai pesan Thalhah disampaikan. Nabi mengajak sahabatnya ke pusara. Di sana, di hadapan tanah yang masih basah. Beliau bergumam dalam doa. Beliau berdiri diikuti para sahabat bersaf di belakangnya. Tangan Nabi terngadah ke langit dan berakata: “Duhai Tuhan pemilik segala sifat sempurna. Terimalah sahabatku dengan kerinduanMu. Biarkan ia tersenyum bahagia menjumpaiMu, dan Engkau tertawa menyambut kehadirannya. Terimalah ia dalam rinduku dan rinduMu”

Kisah Qarun dan Nabi Musa as; Asal Usul Kata Harta Karun

Asal Usul Kata Harta Karun
Pernahkah Anda mendengarkan istilah harta karun? kebanyakan orang pasti sudah mengetahuinya. namun, apakah Anda tahu asal usul kata harta karun tersebut?
Kisah Qarun dan Nabi Musa ini akan memberikan informasi tentang kewajiban membayar zakat dan juga asal usul dari kata harta karun.berikut kisahnya:

Allah swt menurunkan kewajiban untuk mengambil zakat kepada Nabi Musa as. Kemudian Nabi Musa as datang ke rumah Qarun untuk meminta zakat. Namun Qarun menolak untuk mengeluarkan zakat.

Nabi Musa as meminta Qarun untuk mengeluarkan zakat satu ekor kambing dari seribu ekor kambing, dan satu dinar dari seribu dinar. Qarun pun menghitung jumlah zakat yang harus diserahkannya. Dia merasa keberatan untuk mengeluarkannya karena jumlahnya terlalu besar. Saat itu, terbesit di benak Qarun untuk melakukan tipu daya agar dia terlepas dari kewajiban membayar zakat. Qarun mengumpulkan Bani Israil dan berkata, “Apa yang diperintahkan Musa, kalian mematuhinya. Sekarang, dia hendak mengambil harta dari tangan kalian. Maka pikirkanlah suatu cara untuk menghindari perintahnya.”

Mereka berkata, “Wahai Qarun, engkau lebih besar dari kami. Kami akan melakukan apapun yang kau inginkan.”

Qarun berkata, “Panggilkan seorang pelacur! Aku akan memberinya hadiah besar agar dia memfitnah Musa.”

Kemudian Qarun menetapkan hadiah kepada wanita itu sebesar seribu dinar dan berjanji akan menjadikannya istri. Keesokan paginya, Qarun mengumpulkan Bani Israil. Setelah itu, Qarun menghadap kepada Nabi Musa seraya berkata, “Orang-orang menanti kedatangan Anda. Sampaikanlah saran dan nasihat kepada mereka.” Nabi Musa as keluar dari rumahnya dan mulai menyampaikan nasihat kepada umatnya.

Di antara nasihatnya, beliau berkata, “Barang siapa yang mencuri, maka aku akan memotong tangannya. Barang siapa yang memfitnah, maka aku akan mencambuknya sebanyak 70 kali. Barang siapa yang tidak mempunyai istri dan dia berbuat zina, maka aku akan mencambuknya sebanyak 70 kali. Adapun barangsiapa yang memiliki istri dan dia berbuat zina. Maka ia akan dirajam hingga mati.”

Qarun berkata, “Meskipun Anda sendiri yang melakukannya (berbuat zina)?”

Nabi Musa as menjawab, “Ya”

Qarun berkata, “Bani israil berkata, bahwa Anda telah berzina dengan fulana”

Nabi Musa as bertanya dengan heran, “Saya berbuat zina?”

Qarun menjawab, “Benar.”

Qarun mendatangkan wanita itu dan berkata, “Apa yang mereka katakan benar adanya. Ini buktinya!”

Adapun wanita itu, mulai berpikir untuk bertaubat dan meminta maaf kepada Nabi Musa as. Wanita itu bertekad menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia berkata, “Mereka berdusta. Qarun telah menentukan hadiah istimewa kepada saya agar memfitnah Anda.”

Qarun terkejut dengan kejadian tidak terduga ini dan menundukkan kepalanya lantaran malu. 

Seketika itu pula Nabi Musa as bersujud di hadapan Allah dan memuji-Nya. Dengan tetesan air mata beliau berucap, “Ya Allah, MusuhMu hendak mencelakaiku. Aku adalah utusanMu dan datang dari sisiMu. Ya Allah kuasakanlah aku atasnya (Qarun)!”

Terdengarlah suara, “Wahai Musa, kekuasaan bumi Aku letakkan di bawah kehendakmu.” Kemudian Nabi Musa as menghadap ke bani israil seraya berkata, “Allah swt memberikan kepadaku kekuatan untuk menghancurkan firaun dan para pengikutnya. Sekarang, dia telah memberikan kekuasaan kepadaku untuk menguasai Qarun. Barangsiapa yang mencintai Qarun, maka hendaknya dia bersamanya. Dan barang siapa membencinya, maka hendaknya ia menyingkir.”

Hanya dua orang saja yang tetap tinggal bersama Qarun. Nabi Musa memerintahkan bumi untuk menelan Qarun dan orang yang bersamanya itu. Ketika Qarun terbenam hingga betis, Nabi Musa as berkata, “Wahai bumi telanlah mereka hingga batas lutut!” ketiga kalinya, Nabi Musa as memerintahkan bumi untuk menelannya hingga sebatas pinggang.

Lalu Nabi Musa as berkata, “Telanlah mereka hingga sebatas leher.” Berkali-kali Qarun memohon kepada Nabi Musa as agar ia dibebaskan dari siksa. Akan tetapi, Nabi Musa as sangat marah padanya dan tidak menghiraukan permohonannya.

Untuk kali terakhir, Nabi Musa as berkata, “Wahai bumi, telanlah seluruh tubuh mereka!” Seluruh tubuh Qarun dan orang yang bersamanya akhirnya ditelan bumi dan binasa.

Allah swt mewahyukan kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, betapa keras hatimu. Qarun memohon belas kasihan kepadamu sebanyak 70 kali, namun engkau enggan memaafkan kesalahannya. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, seandainya dia berdoa pada-Ku sekali saja, maka niscaya ia akan menemukan-Ku sebagai Tuhan yang Maha dekat dan Maha mendengar doa.”

Diyakini dalam kisah ini Qarun beserta hartanya ditenggelamkan bersama pengikutnya, hingga pada akhirnya orang yang selalu berburu harta dikatakan sebagai orang yang sedang mencari hartanya karun, maka terciptalah istilah harta karun.

Kisah Putri Raja Namrud dan Nabi Ibrahim as

Raja Namrud dan putrinya, Ra’dhah, duduk-duduk menyaksikan Nabi Ibrahim as dibakar api.

Tiba-tiba, putri raja Namrud itu berdiri di ketinggian dan melihat Nabi Ibrahim as berada di tengah-tengah api dengan dikelilingi bunga-bunga taman. Dengan suara lantang, Ra’dha bertanya, “Wahai Ibrahim, apa gerangan yang terjadi?
Mengapa api tidak mampu membakarmu?”

Nabi Ibrahim as menjawab, “Barang siapa yang lisannya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim dan hatinya mengenal Allah swt, maka api tidak akan membakarnya.”

Ra`dha berkata, “Aku ingin bersamamu, wahai Ibrahim.”

Nabi Ibrahim as berkata, “Ucapkanlah: Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah swt. Setelah itu masuklah ke dalam api.”

Ra`dha mengucapkan. “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah swt dan Ibrahim adalah kekasih Allah swt.” Kemudian, dia berlari masuk ke dalam api, menyusul Nabi Ibrahim as dan beriman padanya.

Sesudah menyatakan keimanannya di hadapan Nabi Ibrahim as, Ra`dha kembali menemui ayahnya. Raja Namrud sangat terkejut melihat kejadian ini. Dia khawatir kekuasaannya akan hancur.

Oleh karena itu, dia menasehati putrinya agar tidak mengikuti Nabi Ibrahim as. Namun, nasihatnya tidak berpengaruh di hati putrinya. Dengan penuh amarah raja Namrud memerintahkan agar putrinya di salib di bawah terik matahari.

Allah swt memerintahkan malaikat Jibril, “Selamatkanlah hambaKu ini!” lalu malaikat Jibril menyelamatkan Ra`dha dan membawanya ke sisi Ibrahim as.

Ra`dha menjalani penderitaan dan kesengsaraan bersama Nabi Ibrahim as. Akhirnya, Nabi Ibrahim as menikahkan Ra`dha dengan salah seorang putranya. Dari hasil pernikahan itu, Allah swt menganugerahkan kepada pasangan itu anak keturunan yang menjadi nabi dan rasul.

Kisah Pencuri yang Tercuri

Disebutkan bahwa seorang pencuri memanjat tembok rumah Malik bin Dinar, lalu masuk menyelinap, tetapi ia tidak menemukan apa pun yang dapat ia ambil. Sementara itu, saat itu tuan rumah sedang khusyu` shalat segera memperpendek shalatnya karena merasa terganggu

Ketika ia tahu bahwa ada orang lain di rumahnya, Malik bin Dinar menyapanya dengan ucapan salam, lalu berkata, “Semoga Allah memberimu tobat, engkau memasuki rumahku, tetapi tidak menemukan sesuatu yang dapat engkau ambil. Namun, aku tidak akan membiarkan engkau keluar sia-sia”

Malik bin Dinar kemudian membawakan bejana penuh dengan air dan berkata, “Ambillah air wudu, lalu lakukan shalat dua rakaat, nanti engkau akan membawa sesuatu yang lebih baik daripada yang engkau cari di rumah ini”

Kisah Pencuri yang Tercuri
Mendengar penuturan tuan rumah yang menyambutnya dengan tulus serta tidak menuntutnya, si pencuri pun merasa terharu ketika ia ditawari untuk shalat. Ia pun mengambil air wudu, lalu melakukan shalat dua rakaat. Ia merasakan getaran jiwa yang luar biasa. Setelah itu ia meminta izin kepada tuan rumah untuk menambah shalatnya dua rakat lagi. Malik bin Dinar pun mengizinkannya dengan senang hati.

Namun, ternyata pencuri itu meneruskan shalatnya hingga pagi hari. Kemudian Malik bin Dinar mengizinkannya untuk pulang. Akan tetapi, pencuri itu memilih untuk tetap tinggal seraya berkata, “Tuanku, apakah engkau berkenan jika aku tinggal di sini bersamamu karena aku telah berniat puasa hari ini?”

“Tentu, aku senang mendengarnya. Tinggallah di sini selama engkau mau,” jawab Malik bin Dinar. Pencuri itu pun tinggal di rumahnya selama berhari-hari dengan berpuasa dan melakukan shalat malam.

Ketika hendak pulang, pencuri itu berkata, “Wahai tuangku, aku berniat untuk bertobat”

“Itu di tangan Allah Azza wa Jalla,” sambut Malik bin Dinar. Ia kemudian benar-benar bertaubat.

Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan salah seorang pencuri yang ia kenal baik, lalu ditanya, “Aku pikir engkau memperoleh harta karun”

Ia menjawab, “Saudaraku, aku bertemu dengan Malik bin Dinar ketika aku masuk menyelinap ke dalam rumahnya. Aku hendak mencurinya, tetapi ternyata ia yang mencuriku. Kini aku telah bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla” tandasnya.

Kisah Nabi Muhammad saw dan Utbah bin Rabiah

Ketika kaum Musyrikin Quraisy melihat perkembangan islam yang semakin pesat, Utbah bin Rabiah meminta izin kepada mereka untuk mencoba berdialog dengan Nabi Muhammad saw.

Dia ingin menanyakan secara pribadi apa yang dimaksud Nabi dengan dakwahnya dan apa tujuan beliau. Apakah beliau ingin harta dan kedudukan? Jelasnya Utbah ingin berdiplomasi dengan Muhammad saw. Usul Utbah kemudian disepakati oleh kaum Musyrikin.

Setelah Utbah tiba di hadapan Nabi, dia duduk dan berkata,

“Hai anak saudaraku, engkau telah tahu kedudukanmu di tengah kita, dan kini engkau membawa di tengah kaummu sesuatu yang besar sekali. Engkau pecah belah persatuan mereka, engkau caci tuhan mereka dan apa yang dilakukan nenek moyang mereka. Karena itu dengarlah apa yang akan kami tawarkan kepada kamu dengan harapan sudilah kamu menerima walaupun hanya sebagian saja.”

Jawab Nabi’ “Katakanlah hai Abal Walid apa yang akan kamu tawarkan”

Utbah bin Rabiah menjawab,

“Hai anak saudaraku, jika kamu berdakwa ini bertujuan ingin cari uang, maka kami akan kumpulkan uang untukmu sampai kamu menjadi orang terkaya di seluruh kota Mekkah. Jika kamu ingin menjadi orang terpandang, kami akan menjadikanmu raja. Jika kamu memang terkena gangguan jin yang kamu tidak dapat menghindarinya kami akan mencarikan seorang dukun dan kami akan bersedia menanggung biayanya sampai kamu sembuh”

Kisah Nabi Muhammad saw dan Utbah bin Rabiah

Setelah Utbah bin Rabiah selesai dengan ucapannya, Nabi bertanya kepada Utbah,

“Apakah kamu sudah selesai hai Abbal Walid?”

“Ya, aku sudah selesai” Jawab Utbah.

Nabi berkata, “Dengarkanlah apa yang aku ucapkan” kemudian Nabi Muhammad saw membacakan surat “Hamiim Sajdah” di hadapan Utbah.

Utbah bin Rabiah mendengarnya dengan penuh keheranan akan keindahan isi kandungan surat itu sehingga Utbah hanya terdiam saja. Ketika Nabi sampai ayat Sajdah beliau bersujud dan beliau meneruskan bacaannya sampai selesai.

Setelah selesai Nabi Muhammad saw bertanya, “Sudahkah kamu dengar apa yang kubaca tadi wahai Abal Walid?”

Tanpa berkata-kata Utbah bin Rabiah bangkit meninggalkan Nabi dan kembali ke tempat kaumnya yang sedang menunggu hasil kunjungannya dari Muhammad saw.

Ketika mereka melihat wajah Utbah mereka berkata, “Demi Allah kini Utbah berubah wajahnya sebelum dia pergi menemui Muhammad saw”

Sesampainya, Utbah ditanya, “Bagaimanakah hasil perundinganmu hai Abal Walid”

Jawab Utbah dengan polos,
“Demi Allah aku telah mendengarkan dari padanya suatu bacaan yang tidak pernah kudengar seindah itu sebelumnya. Bacaan itu tidak serupa dengan syair atau pun bacaan dukun. Karena itu hai kaumku, sebaiknya kamu biarkan saja, jangan dihalangi sedikitpun kegiatannya”

Kaum musyrikin berkata, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu sampai kamu terpengaruh dengan bujukannya”

Utbah menjawab, “Ini adalah pendapatku yang sebenarnya, kamu bebas untuk berbuat sesukamu”

Friday, August 30, 2013

Kisah Nabi Daud a.s dan Hari Sabtu

Nabi Daud adalah Nabi yang diutus di muka bumi oleh Allah swt sebagai seorang khalifah. Nabi Daud ialah nabi yang menggantikan Raja Thalut untuk menguasai kaum Bani Israil. Nabi Daud adalah Raja yang dikenal arif dan bijaksana. Dibawah pemerintahannya, Bani Israil hidup sejahtera dan sentosa. Sementara kaum Bani Israil ialah kaum yang tidak pernah puas atas karunia dari Allah swt. Kaum Bani Israil sendiri ialah kaum yang dikenal sebagai kaum yang sering mengingkari janji. Jika hari ini mereka berkata rela berjuang di jalan Allah, maka ketika tiba penagihan janjinya mereka malah berpaling dan merasa tidak pernah mengatakan janji yang pernah mereka ucapkan.

Kisah berikut yang berjudul Nabi Daud a.s dan hari Sabtu ini mengisahkan Nabi Daud dan kaum Bani Israil yang mengukim kota Aliah dalam riwayat lain dikenal sebagai Aliat dan juga adapula yang mengatakan sebagai kota Ayilah. Kaum Bani Israil yang mengukim kota ini, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Namun, penduduk kota ini malah mengingkari ketetapan Allah yang dibawah Oleh Nabi Musa as, terkait adanya hari dalam seminggu yang ditetapkan agar engkau beribadah kepada Allah swt. Hari itu ialah hari Jum’at. Dengan kecongkangannya penduduk Aliat ingin mengganti hari peribadatan ini ke hari sabtu.

Di sebuah kedai di kota Aliat sedang asyik para pembesar Bani Israil bersenang-senang dengan rencana kufur yang telah mereka rencanakan.

“Apa yang terjadi pada kalian…?” kata Yahuda, “Aku lihat kalian bingung dan ragu… bukankah kalian di sini berada di tengah-tengah masyarakat sendiri…? Mari satukan langkah dan kita tentang peraturan pemerintah.”

“Benar Yahuda” sambung yang lain. “Kau tahu kami bukan pengecut dan cecurut. Tapi, apa yang akan kita katakan kepada Daud, jika ia tahu kita tidak mau beribadah bersamanya di hari Jum’at? Kita tidak tahu apa yang akan ia lakukan ketika ia tahu kita mengganti hari ibadah ke hari sabtu tanpa seizinnya”

“Dia pasti setuju”

“Darimana kau tahu Yahuda?”

“Kita mengganti hari peribadatan kita demi kepentingan pekerjaan kita. Ikan jarang sekali mendekati pantai. Sementara kira harus menangkapi ikan-ikan itu saat menepi.., ini hak kita. Sementara ibadah bisa dikerjakan kapan saja. Yang jelas setelah kita menangkap ikan dan mendapatkan ikan..” kata Yahuda meyakinkan.

Ketika sedang asyik membicarakan hal ini tiba-tiba seorang pria tanggung datang tergopoh-gopoh memberitahu bahwa Nabi Daud telah datang. Mereka segera keluar menemui Nabi Daud. Mereka ingin mengetahui reaksi Nabi Daud terkait rencana mereka untuk mengganti hari ibadah pada hari Jum’at ke hari sabtu.

“Bedebah kalian” hardik Nabi Daud, “Apakah kalian hendak berpaling dari perintah Tuhan, dan menetapkan hukum sendiri yang bertentangan dengan perintah-Nya”

“Nabiyullah, hari jum’at tidak tepat untuk digunakan beribadah. Kami bekerja keras selama seminggu hingga badan kami terlalu lelah untuk beribadah pada hari jum’at. Kami ingin melepas lelah pada hari jum’at dan beribadah pada hari sabtu” bantah Bunyamin

“Bukankah Allah telah mengingatkan kita akan hari sabtu, mengapa kalian ngotot untuk beribadah pada hari itu?” Kata Nabi Daud.

“Pokoknya kami hanya mau beribadah pada hari sabtu” tegas Yahuda melawan.

“Saudara-saudara sekalian.., aku ingin mengingatkan kalian akan murka dan azab Allah yang sangat pedih. Kalian sudah sering menghianati Nabi-nabi kalian sendiri. Kalian gemar berbuat maksiat dan kemungkaran. Apakah kalian lupa dengan nikmat yang telah Allah anugerahkan? Apakah kalian lupa bagaimana Allah telah menyelamatkan kalian dari Gholiat, sehingga kalian bisa hidup tentram bersama anak dan isteri Anda? Allah telah membukakan pintu-pintu rezeki serta menghancurkan musuh kalian. Kalian benar-benar hidup sejahtera. Bersyukurlah kepadanya dan berhentilah berbuat kerusakan di muka bumi. Negeri akhirat dan Ridho Allah lebih baik bagi kalian dibanding dunia berikut seluruh isinya” nasihat Daud mengingatkan mereka.

Mendengar nasihat ini Bani Israil terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok orang-orang yang sadar. Mereka menangis karena takut kepada Allah dan kembali kepada beriman. Nasihat Nabi Daud telah membuat mereka sadar. Kelompok kedua ialah mereka yang menentang. Mereka berpikir Nabi Daud tidak menghendaki mereka hidup sejahtera dan hanya mengfokuskan hidup pada ibadah semata. Mereka tidak ingin kehilangan harta dan kekayaan. Kelompok ketiga ialah kelompok yang kebingungan. Mereka memperhatikan kelompok pertama , tetapi juga mencermati kelompok kedua. Akhirnya mereka mengikuti kelompok yang menjanjikan harta dan kekayaan dunia pada mereka.

Kota Aliat ialah kota yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan kecil yang selalu hidup sederhana dan memimpikan untuk hidup kaya. Bunyamin memanfaatkan kondisi ini. Setelah Nabi Daud pergi. Bunyamin membagi-bagikan uang, pakaian, dan berbagai kebutuhan hidup lain untuk menarik simpati masyarakat dan menambah pengikutnya. Hal ini membuat masyarakat mematuhi perintah Bunyamin. Mereka tidak melaut pada hari jum’at dan juga tidak beribadah pada hari sabtu. Mereka takut kepada Bunyamin, bukannya takut pada perintah Allah swt. Setan telah membuat mereka tersihir.

Tindakan Bani Israil ini membuat Allah swt murka. Allah kemudian memerintahlan Nabi Daud untuk melarang orang-orang melaut pada hari sabtu. Allah juga membuat ikan-ikan mendekati bibir pantai pada hari sabtu hari dimana mereka dilarang untuk menangkap ikan. Hal ini sebagai balasan karena mereka memperturutkan hawa nafsu dan menyalahi aturan-Nya yang telah ditetapkan.

Mensiasati perintah Allah
Bunyamin memiliki seorang putra yang bernama Amdan. Amdan ialah pemuda yang tidak pernah memenuhi panggilan untuk beribadah sehingga ia kufur dan jauh dari Allah. Amdan sangat gemas melihat ikan-ikan yang bergerombol pada hari sabtu yaitu hari dimana mereka tidak diperbolehkan menangkap ikan.

Sebagai kepala Nelayan, ia tidak ingin mengecewakan jabatan yang ia telah pegang kepada para nelayan lain yang telah sekian lama tidak mendapatkan ikan. Sesungguhnya Allah swt menguji hambanya agar mereka bertaubat. Amdan kemudian berpikir keras hingga terbesit ide licik di kepalanya.

Ia membuat jaring yang amat besar yang dapat menutupi ¾ bibir pantai. Karena ia dilarang melaut pada hari sabtu, ia memasang jaring itu pada malam sabtu lalu mengambil jaring pada hari Ahad pagi.

Pada pagi ahad yang telah ia nanti. Amdan memanggil semua nelayan agar ikut bersamanya ke laut. Ajaib! Mereka mendapatkan hasil yang amat melimpah. Nelayan yang lain sampai terheran-heran dengan hasil tangkapan yang didapatkan. Dengan sombongnya, Amdan menceritakan ide liciknya kepada nelayan lainnya. Nelayan lain akkhirnya mengikuti apa yang telah dilakukan Amdan. Namun, mereka tidak saja puas dengan hasil yang mereka peroleh. Hal ini disebabkan karena ikan sebagian besar di monopoli oleh Amdan.

Mereka akhirnya merencanakan untuk membunuh Amdan agar hasil tangkapan ikan kepada semua nelayan merata. Azab Allah mulai Nampak. Kekacauan terjadi dimana-mana. Manusia hanya mengikuti hawa nafsunya dan lupa akan Tuhan yang menciptakan mereka. Kelompok yang taat dan kelompok fasik terpisahkan oleh tembok besar agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Hingga pada suatu malam yang sangat mencekam langit Nampak begitu menakutkan dan laut seakan mengamuk. Tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah. Namun, setelah pagi menjelang badai itu kemudian sirna tergantikan oleh sinar mentari yang hangat. Angin bertiup tenang dan laut menampakkan kesejukan. Orang-orang keluar untuk mencari nafkah..tetapi ada yang aneh dari balik tembok orang-orang yang ingkar kepada Allah swt. Jalan-jalan Nampak sepi, dan semua rumah tertutup rapat. Orang-orang yang penasaran mencoba memanjat dinding rumah, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Allah telah menampakkan kemurkaannya. Malam itu saat badai melanda orang-orang mengunci pintu mereka dengan rapat dan mereka mendadak berubah wujud menjadi kera dan babi. Kaum mukminin mengetahui bahwa saudara mereka yang kufur telah dirubah menjadi kera jantan dan betina. Sedangkan orang tua mereka dirubah menjadi babi jantan dan babi betina (al-Maaidah [5]:60).

Bani Israil bertahan dalam wujud itu selama tiga hari, tanpa makan, tanpa minum dan tidak bersetubuh. Inilah balasan bagi mereka yang mendurhakai Allah dan mempertontonkan kesombongan di muka bumi.

Kisah Masjid Bait al-Makmur, Tempat Disimpannya Catatan Amal Perbuatan Manusia

Diriwayatkan dari Imam (Ali Zainal Abidin) al-Sajjad, “Tatkala Allah swt hendak menciptakan manusia, para malaikat protes dan berkata, ‘mereka (manusia) adalah sumber kerusakan.’ Lalu Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya Aku maha mengetahui apa-apa yang kalian tidak ketahui!”

“Allah mengasingkan malaikat yang memprotes itu dari cahaya selama 7.000 tahun. Setelah kejadian itu, malaikat senantiasa memohon ampunan Allah. Allah swt menciptakan sebuah masjid (Bait al-Makmur) di langit ketujuh. Allah memberikan perintah kepada para malaikat, ‘Untuk menjalankan istighfar, hendaknya kalian thawaf mengelilingi masjid ini selama 7.000 tahun.”

“Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jika sebuah batu dilemparkan dari masjid (di langit ketujuh) itu, maka ia akan jatuh tepat di atas kabah. (tentu riwayat ini mesti dikaji kembali). Manusia yang thawaf mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali, pahalanya sama seperti pahala para malaikat yang thawaf mengelilingi Bait al-Makmur sebanyak 7.000 tahun. Di antara keagungan masjid Bait al-Makmur adalah bahwa setiap hari Allah menciptakan 70.000 malaikat. Kemudian malaikat-malaikat itu memasuki masjid Bait al-Makmur dan sibuk berzikir pada Allah. Ketika mereka keluar, mereka beroleh tugas (tertentu) hingga hari kiamat.”


Keistimewaan masjid Bait al-Makmur lainnya seperti yang dinukil oleh Ibnu Thawus adalah:

Di dalam masjid Bait al-Makmur terdapat malaikat yang sebagiannya berada di kanan dan sebagian lain di sebelah kiri. Ketika pencatat amal datang membawa catatan amal perbuatan seorang mukmin, para malaikat di sebelah kanan menyambut dengan penuh hormat dan menyimpan catatan amal tersebut. Dan jika malaikat datang membawa catatan amal orang yang berbuat maksiat , maka malaikat yang di sebelah kiri mengambil dan menyimpannya.”

Berdasarkan riwayat ini, amal perbuatan manusia (baik dan buruk) tersimpan di masjid Bait al-Makmur (di langit ke tujuh), sehingga pada hari kiamat kelak manusia tidak bisa mengingkari perbuatannya.

Kisah Malaikat Izrail Mencabut nyawa

Allah swt bertanya kepada Malaikat pencabut nyawa, Izrail, "Apakah engkau kasihan terhadap hamba-hambaKu ketika mencabut nyawanya?"

Malaikat Izrail mejawab, "Ya Allah, sepanjang masa, aku merasa kasihan kepada hamba-hambaMu. Aku pergi ke sebuah rumah dan harus mencabut nyawa sang ayah dari rumah itu. Sementara anaknya masih balita. Aku merasa kasihan kepada mereka. Terkadang aku harus mencabut nyawa seorang pemuda di hadapan ayah dan ibunya. Mereka sangat mencintai pemuda itu. Aku merasa kasihan kepada mereka. Ketika aku hendak mencabut nyawa seorang ibu, anak-anaknya yang masih kecil berkumpul dan menangis mengelilinginya. Kematian ibu itu menyebabkan anak-anak kecil itu menjadi yatim. Tapi, apa yang bisa kulakukan di hadapan perintahMu. Jadi, aku merasa kasihan terhadap semua makhlukMu."

Allah swt bertanya kepada malaikat Izrail, "Siapakah di antara hamba-hamba-Ku yang lebih engkau kasihani?"
Malaikat Izrail menjawab, "Ketika sebuah kapal berlayar di tengah lautan. Engkau memerintahkanku untuk menenggelamkan kapal itu, kecuali seorang wanita dan bayinya yang baru lahir. Engkau memerintahkanku agar membiarkan mereka berdua tetap hidup. Wanita itu meletakkan bayinya di dalam secarik kain. Kemudian Engkau perintahkan aku untuk mencabut nyawa wanita itu. Bayi itu tinggal sendirian. Aku merasa kasihan pada bayi itu. Ombak lautan mengguncang bayi itu kesana-kemari. Hatiku sangat iba padanya"

Allah swt bertanya kepada Izrail, "Wahai Izrail, apakah engkau tahu apa yang Aku lakukan terhadap bayi itu? Aku perintahkan ombak lautan untuk membawa bayi itu menuju sebuah pulau yang air dan udaranya bersih. Aku perintahkan angin untuk tidak mengguncang bayi itu. Aku perintahkan awan untuk tidak menurunkan hujan. Aku perintahkan matahari untuk tidak membakar bayi itu dengan panas teriknya. Di suatu pulau, seekor harimau melahirkan anaknya. Aku perintahkan harimau itu untuk menyusui bayi manusia itu. Harimau menyusui bayi itu hingga ia tumbuh besar dan menjadi anak yang pemberani."

Ketika anak itu dewasa, sebuah kapal melewati pulau itu. Aku jadikan penumpang kapal itu mencintai anak itu. Mereka pun mengambilnya dan membawanya ke kota. Wahai Izrail, dengan berjalannya waktu dan upaya yang gigih, anak itu akhirnya menjadi raja. Ketika dia menunjukkan permusuhan denganKu, Aku mengutus Ibrahim menjadi Nabi supaya dia (Nabi Ibrahim) mengenalkan padanya tentang-Ku. Akan tetapi raja yang bernama Namrud itu malah berkata, "Aku adalah tuhan di bumi dan aku menyatakan perang kepada Tuhan langit."

"Namrud membuat sebuah kotak dan mengikatkannya pada kaki empat ekor burung rajawali. Namrud membiarkan rajawali itu kelaparan selama beberapa masa dan kemudian memberinya makan sekerat daging. Lalu Namrud duduk di dalam kotak dan membiarkan rajawali itu terbang ke langit. Di tangannya Namrud memegang busur dan anak panah. Setelah terbang tinggi, Namrud melepaskan anak panah ke arah langit. Aku memerintahkan Jibril mengambil seekor ikan laut untuk dijadikan sasaran panah Namrud."

"Malaikat Jibril bertanya pada-Ku, 'Ya Allah, Namrud datang untuk memerangi-Mu, Mengapa Engkau melimpahkan rahmat dan kasih sayang seperti ini kepadanya?'

"Allah berfriman pada Jibril, Wahai dia (Namrud) datang untuk memerangi-Ku, tapi Aku tidak memeranginya. Apapun yang dilakukannya dia tetap hamba Ku. Dan jika dia datang kepada Ku dengan sebuah harapan, maka Aku tidak akan memupuskan harapannya."

Kisah Penghancuran Ka'bah

Kisah kronologis penghancuran Ka`bah adalah sebuah kisah sejarah yang sangat menankjubkan dan penuh kontroversi pada masanya. Kisah penghancuran Ka`bah pun diabadikan dalam Al-Quran, tepatnya pada surat al-Fiil. Kisah penghancuran Ka`bah yang mungkin pernah Anda dengar tentang pasukan bergajah yang mencoba untuk menghancurkan Ka`bah berikut akan kami kisahkan. Kisah ini cukup panjang karena kita akan memulai dari kronologis awal penguasa pada saat itu yang membenci Ka`bah dan kaum muslimin. Selain itu juga di sini kita akan membicarakan tentang alasan mengapa pihak mereka ingin menghancurkan Ka`bah yang tentunya mengandung banyak hikmah. Berikut Kisahnya:

Abrahah al-Asyram adalah pemimpin dari Yaman yang telah menggulingkan pemimpin sebelumnya yang bernama Aryath dengan cara pemberontakan dan melalui sebuah peperangan. Akhirnya dari kemenangannya ia diangkat sebagai pemimpin baru dari kota Yaman.

Sebagai Raja yang baru, Abrahah meminta menterinya untuk menceritakan sepak terjang raja-raja sebelumnya sebagai pertimbangan dengan apa yang akan ia lakukan pada masa pemerintahannya. Abrahah adalah seorang nasrani yang amat fanatik. Ia pun bertanya kepada menterinya Syarhabil bin Iyad, tentang kepemimpinan raja pendahulunya. Menyambut perintah raja Abrahah, menteri itu pun mnceritakan keagungan raja-raja sebelumnya.

"Yaman memang pernah dipimpin oleh penguasa-penguasa agung sebelum dirimu. Setelah masa Bilqis binti Ilisyrih, Yaman dipimpin oleh Yasir bin`Amru yang bergelar "Yasir Sang Pembawa Nikmat". Ia digelari Pembawa Nikmat karena mampu memelihara ketentraman negara dan menjaga keutuhan bangsa. Setelah itu, Tiban As`ad bin Milkikirab yang dijuluki "Sang Pembuka Jalan". Ia hidup sezaman dengan Ibnu Isfandiyar, Maharaja Persia, penakluk raksasa yang wilayah jajahannya sampai ke India dan Azerbaijan. Dialah penguasa Yahudi yang memasang tirai Ka`bah.

"Tunggu sebentar, mengapa orang-orang Arab sangat memuliakan Ka`bah?" potong Abrahah.

"Ia adalah pusat pemujaan yang mereka sucikan. Bangunan yang ditegakkan nenek moyang mereka Ibrahim dan Ismail itu termaktub dalam kitab suci kita Tuan. Semua orang yang ingin menambah wibawa dan menaikkan derajatnya pasti memuliakan Ka`bah. Sebab dengan demikian, Tuhan akan menaikkan harkat dan martabatnya dalam hati manusia," terang Syarhabil.

Abrahah tertegun sejenak "Teruskan ceritamu!" seluruhnya.

"Setelah itu, Yaman secara bergantian dikuasai oleh raja-raja kecil hingga akhirnya, Anda tampil menggantikan Dzu Nuwas yang tewas bersama orang-orang Nasrani. Tuhan telah menyempurnakan keagungan dan memanjangkan usia Tuan, setelah Tuan berhasil menggulingkan Aryath."

"Tepat sekali Syarhabil, semua raja sebelumku telah mati, begitu juga dengan aku nantinya yang akan digantikan oleh penguasa yang lain. Tapi aku ingin mengabdikan namaku dengan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan orang lain. Aku adalah orang" Nasrani, dan aku mencintai agamaku, dan karenanya Aku membunuh Dzu Nawas. Aku akan membangun gereja besar yang akan membuat orang-orang Arab berpaling kepadanya... sebuah gereja yang tidak ada bandingannya."

"Benar sekali, Tuan Abrahah yang agung"

Singkat cerita akhirnya Abrahah pun memanggil seluruh arsitek-arsitek handal untuk merancang gereja yang tidak ada tandingannya. Hingga akhirnya Abrahah menulis surat kepada Najasyi bahwa ia telah selesai membangun Gereja yang belum pernah dibangun oleh raja sebelumnya. Tapi aku belum puas dengan keberadaannya hingga para Jamaah haji Arab berpaling kepadanya.

Perkataan Abrahah terdengar oleh seluruh penduduk Arab bahkan Abrahah sampai mengulangi perkataannya sebanyak dua kali. Hingga akhirnya kabar ini sampai kepada pria dari Bani Faqim. Ia bergegas menuju ke Shan`a mengunjungi gereja Abrahah. Ia menunggu beberapa saat lamanya hingga semua orang keluar, setelah sepi, ia lantas buang air besar dalam gereja. Setelah selesai, ia lantas pulang tanpa beban.

Mendengar kabar ini Abrahah geram dan marah besar apa lagi ketika mengetahui bahwa orang yang buang besar dalam gerejanya ialah orang Arab. Abrahah kemudian memanggil semua menteri dan panglima perangnya dan memutuskan untuk menghancurkan Ka`bah.

Di sinilah prahara penghancuran Ka`bah di mulai. Kabar ini pun terdengar di seluruh jasirah Arab. Dan juga sampai ke telinga seorang Abu Hikmah yang tidak memeluk agama Abrahah namun ia merasa kasihan kepada Abrahah, tidakkah ia belajar dari para pendahulu yang berniat untuk menghancurkan Ka`bah namun mereka tertimpa azab dari Allah bahkan sebelum mereka dapat menyentuh Ka`bah sedikit pun.

Abu Hikmah mengetahui bahwa Abrahah adalah raja yang keras kepala dan selalu menghendaki keinginannya, oleh sebab itu ia memiliki taktik sendiri untuk menyadarkan Abrahah.

Tanpa menunggu waktu lama Abu Hikmah segera menemui Abrahah

"Paduka Raja yang mulia," kata Abu Hikmah di hadapan Abrahah, "Tuan telah memerintahkan dengan adil dan melindungi penduduk dari kejahatan. Hamba adalah pria Arab yang miskin kebetulan lewat di kota ini dan mendengar bahwa Tuan akan menghancurkan Ka`bah. Hamba tidak memeluk agama yang di peluk oleh Tuan, namun Hamba ingin membantu mewujudkan keinginan Tuan untuk menghancurkan Ka`bah"

Singkat cerita Abu Hikmah disambut baik Abrahah dan disuguhi makanan dan minuman. Akhirnya Abu Hikmah menjalankan rencananya untuk menghalangi rencana penghancuran Ka`bah.

Abu Hikmah menawarkan sebuah jalan pintas menuju Ka`bah yang dikatakannya aman dan lebih cepat sampai ke Ka`bah tanpa halangan sedikitpun. Padahal jalan yang dimaksudkan ialah jalan yang amat tandus. Di sepanjang perjalanan tidak ada air dan pepohonan untuk berteduh.

Abrahah segera menyiapkan pasukan besar dengan baris depan terdapat 13 ekor gajah. Abrahah mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Abu Hikmah. Akhirnya pasukan Abrahah memasuki daerah yang amat gersang dan persediaan air mereka hampir habis.

"Kemana engkau akan membawa kami wahai orang tua? Apakah kau akan membinasakan kami?"

Mengetahui jati dirinya terbongkar, Abu Hikmah mengatakan yang sesungguhnya, "Tuan, saya bukanlah orang Arab, saya adalah orang bijak yang berasal dari kota yang sama dengan Tuan, saya mengkhawatirkan keselamatan tuan, mengingatkan bahwa semua yang berusaha menghancukan Ka`bah pasti akan binasa. Setelah menjalani perjalanan yang panjang Tuan dapat mengurungkan niat untuk menghancurkan Ka`bah dan kembali pulang ke Yaman"

"Jadi engkau menipu dan menyesatkanku, wahai sampah?!"

"Tidak. Sebaliknya saya menyadarkan Tuan dan meluruskan Tuanku."

"Tangkap dia telanjangi dan pakaikan zirah besi padanya, ikat pada sebatang kayu, hingga ia mati terpanggang matahari! Inilah balasan bagi orang yang berusaha menipuku"

Abrahah kemudian kembali ke Yaman dengan membawa perasaan dengki dan semakin benci kepada Ka`bah, nafsu menghancukan Ka`bah semakin terpatri dalam jiwanya yang telah buta dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya.

Tidak sampai beberapa hari Abrahah memerintahkan panglima perangnya menyiapkan pasukan dan segera berangkat ke Ka`bah mengikuti jalan yang biasanya. Niatnya untuk menghancurkan Ka`bah semakin menjadi-jadi.

Dalam perjalanannya pasukan Abrahah sempat mencuri 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Abdul Muthalib tidak tinggal diam dan meminta untanya kembali tanpa membahas sedikitpun tentang Ka`bah.

Abrahah heran dengan tingkah Abdul Muthalib yang hanya meminta kembali untanya dan tidak mengungkit sedikitpun mengenai rencananya untuk menghancurkan Ka`bah.

Abdul Muthalib mengatakan bahwa unta itu adalah milikku dan sudah menjadi hakku untuk memintanya kembali sedangkan Ka`bah adalah rumah Tuhan dan Tuhan akan selalu menjaga rumahnya. Abrahah kemudian mengembalikan unta milik Abdul Muthalib. Namun, tidak disangka unta miliknya ini malah dihadiahkan kepada Abrahah secara suka rela.

Abdul Muthalib kemudian menemui kaum Quraisy dan meminta untuk mengosongkan Makkah. Abdul Muthalib mengamankan ornamen hiasan pintu Ka`bah. Sambil memunguti ornamen itu Abdul Muthalib berdoa "Wahai Tuhan hanya Engkau harapanku yang tersisa. Tuhan, cegahlah mereka dengan rencana-Mu yang perkasa"

Abdul Muthalib mengamankan ornamen hiasan pintu Ka`bah dan berlindung di gunung bersama dengan kaum Quraisy lainnya, menunggu dan mengamati apa yang akan dilakukan Abrahah setelah ia memasuki Ka`bah.

Keesokan paginya, Abrahah segera bersama prajurit bergajah segera berangkat memasuki Makkah. Salah seorang tentara Abrahah yang bernama Nafil bin Habib memagang telinga gajah dan berteriak pada gajah itu "Pulanglah dengan penuh kesadaran! Sekarang kamu telah berada di tanah suci Tuhan! Mendadak, Gajah tersebut duduk dan tidak mau bergerak. Kejadian ini membuat Nafil takut dan segera melarikan diri ke gunung"

Tentara lainnya kemudian memukul gajah itu agar bergerak, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil. Bahkan salah seorang tentara menusukkan pedang ke gajah tersebut agar bergerak namun tetap tidak berhasil. Ketika ia di hadapkan ke arah Yaman ia segera berdiri dan beranjak pergi. Namun ketika ia di hadapkan ke Makkah ia kembali duduk tak bergerak sedikitpun.

Saat itulah langit menjadi gelap. Jutaan burung Ababil terbang dari laut memenuhi angkasa. Setiap burung itu membawa tiga buah batu. Satu di paruh dan dua di cakarnya. Sesaat kemudian burung-burung tersebut menjatuhkan batu membara dan membunuh siapa saja yang dikenainya. Tentara Abrahah melarikan diri kembali ke Yaman. Meskipun beberapa pasukan selamat dari hujaman batu. Satu per satu dari mereka tewas dalam perjalanan kembali ke Yaman. Sedangkan Abrahah mati dengan sangat mengenaskan tubuhnya jatuh satu persatu, keadaannya sangat mengenaskan. Ia baru mati setelah hatinya jatuh keluar dari tubuhnya.

Inilah hukuman yang pantas diterima bagi orang-orang yang kufur kepada Allah swt. Dan dari kisah yang tercatat dalam al-Quran ini dapat memberikan kita keteguhan hati agar selalu tetap di jalan Allah hingga hari kemenangan tiba.

Tuesday, August 27, 2013

Kisah Keterasingan Pemuda Pendosa

Pada masa Nabi Musa as, di antara bani israil, hiduplah seorang pemuda fasik yang selalu berbuat maksiat. Semua penduduk kota mengetahui kelakuan pemuda itu. Allah swt kemudian mewahyukan kepada Nabi Musa as, “Usirlah pemuda itu dari kota” 

Pemuda itu pun pergi ke sebuah desa. Disana ia kembali diusir. Akhirnya pemuda itu pergi ke puncak gunung dan menyepi di dalam gua. Di sana dia jatuh sakit dan tidak ada seorang pun yang merawatnya. 

Pemuda itu meletakkan kepalanya di atas tanah seraya berkata, “Tuhanku, andai ibuku ada di sisiku, niscaya dia akan mengasihi dan menangisiku atas kehinaan dan keterasinganku. Ya Allah, Engkau telah menjauhkanku dari ayah dan ibuku, maka janganlah Engkau putuskan kasih sayang-Mu terhadapku. Engkau telah membakarku dengan api perpisahan dengan kedua orang itu, maka janganlah Engkau bakar aku dengan api neraka-Mu.” 

Allah swt pun mendengar munajat pemuda itu. Allah kemudian menurunkan bidadari dan pemuda penghuni surga untuk menjelma menjadi ayah dan ibu pemuda itu. Ketika pemuda itu membuka mata. Dia melihat ayah dan ibunya dengan perasaan gembira dan kemudian meninggal dunia. 

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, seorang hambaku telah meninggal dunia di sebuah gua. Pergilah ke tempat itu! Mandikan, kafani, shalatkan dan makamkan jenazahnya.” 

Nabi Musa kemudian mendatangi gua itu dan melihat pemuda fasik itu. Nabi Musa as kemudian bertanya kepada Allah swt “Ya Tuhanku, bukankah pemuda ini yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengusirnya dari kota dan desa?” 

Allah swt berfirman: “Wahai Musa, Aku mengasihaninya lantaran penyakit yang menimpanya, keterasingannya dari tanah kelahirannya, dan pengakuan atas dosa-dosanya. Wahai Musa, setiap orang yang terasing dan meninggal dunia, maka para malaikat langit dan bumi menangis karena merasa kasihan tehadapnya, maka bagaimana mungkin Aku tidak mengasihaninya dalam keterasingannya? Dan sesungguhnya Aku adalah Tuhan Yang Mahakasih.”

Kisah Keberanian Abu Dzar r.a

Seorang musafir dari Ghifar berjalan menuju Mekah untuk menemui Rasulullah saw demi mempelajari ajaran mulia yang dibawah beliau. Suku Ghifar terkenal sebagai perampok yang kerap kali merampok kalifah dagang yang mau tak mau harus melewati perkampungan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang kuat yang sanggup melakukan perjalanan jauh dan tidak pernah tersesat karena keberanian dan juga tempaan alam yang membentuk kemandirian mereka.

Dialah Abu Dzar, salah seorang dari suku Ghifar yang digambarkan sebagai seorang preman di sukunya yang kini tergerak hatinya untuk memperoleh cahaya hidayah dari Rasulullah saw.

Kisah Keberanian Abu Dzar r.a
Dengan mudahnya ia menemui sang pembawa risalah yang sedang duduk seorang diri. Ia menyapanya, “Selamat pagi! Wahai kawan sebangsa!”

Rasulullah saw menyambutnya hangat, “Waalaikum salam, wahai sahabat!”

Abu Dzar berkata, “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan syair Anda!”

“Ini bukan syair hingga dapat digubah, melainkan Al-Quran yang mulia,” jelas Rasulullah saw dengan sabar.

Setelah dibacakan beberapa ayat dari Al-Quran, Abu Dzar langsung berseruh, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah!”

Rasulullah tersenyum bahagia melihat keislaman pendatang baru di hadapannya. Beliau bertanya, “Dari manakah engkau berasal, wahai saudara sebangsa?”

“Ghifar!” jawab Abu Dzar pendek

Subhanallah, Rasulullah saw benar-benar takjub ketika mendapati seorang preman yang berasal dari suku yang berkarakter brutal ternyata mau menerima islam yang penuh ajaran kelembutan dan kasih sayang kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya!”

Abu Dzar adalah seorang preman yang menjadi sahabat Nabi dan berada di baris depan sebagai seorang yang pertama masuk islam. Cahaya imannya seakan berontak ingin mengahapus segala bentuk penyembahan berhala yang menjadi kebiasaan bangsa Arab saat itu.

Ia merasa sangat geram melihat umat islam berbisik-bisik dalam syiarnya. Ini adalah agama yang haq yang menyelamatkan mereka! Apa yang harus ditakuti jika yang dibelanya adalah agama yang benar? Sambil menahan keinginannya yang meluap luap untuk memproklamasikan keislamannya, Abu Dzar menyempatkan diri bertany kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apa sebaiknya yang harus saya kerjakan menurut engkau?”

“Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!” jawab Rasulullah. Beliau memang paham betul bahwa situasi di sana belum aman bagi kaum muslimin, apalagi jika diketahui bahwa ia telah memeluk islam. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh Abu Dzar untuk kembali ke kaumnya demi keselamatan Abu Dzar.

Bagi Abu Dzar perintah itu adalah pembungkaman yang sangat bertolak belakang dengan karakter dirinya. Kemudian ia berseru, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku! Saya tidak akan pulang sebelum meneriakkan islam di masjid!”

Ia langsung menuju Masjidil Haram dan meneriakkan syahadat di sana. Tak ayal sekelompok orang mendatanginya dan memukulinya hingga ia terjatuh, beruntung paman Rasulullah saw, Abbas, segera menolongnya.

Kejadian itu tidak membuat Abu Dzar kapok. Keesokan harinya, dia melihat dua orang wanita sedang thawaf mengelilingi berhala Usaf dan Nailah sambil memohon kepadanya. Abu Dzar mendekati berhala itu dan menghinanya sedemikian rupa di depan kedua wanita itu. Spontan, keduanya berteriak hingga puluhan orang datang dan kembali memukuli Abu Dzar hingga pingsan.

Setelah siuman, ia bergumam, “Tiada Tuhan yang haq disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad itu utusan Allah”

Rasulullah saw mengenal tabiat sahabat barunya ini yang ternyata pemberani. Namun, beliau tidak mengizinkan Abu Dzar melakukan hal yang sama lagi. Beliau pun mengulangi perintahnya agar Abu Dzar kembali ke kaumnya dan tidak boleh dibantah

Abu Dzar pun kembali ke kaumnya meskipun semangat menyiarkan islam tidak pernah padam, bahkan makin membara. Ia memberitahukan kepada kaummnya bahwa telah hadir seorang Nabi yang telah diramalkan para Nabi terdahulu yang menyuruh untuk beribadah kepada Allah dan membimbing manusia agar berakhlak mulia. Satu per satu dari kaumnya pun memeluk islam.

Tahun demi tahun berlalu. Umat islam telah berhijrah ke Madinah bersama Rasulullah saw. Saat yang tepat bagi Abu Dzar untuk melepas rindu kepada Rasulullah saw. Ia pun mengajak kaumnya dan kaum Aslam untuk bertemu dengan Rasulullah saw. Sosok mulia yang mereka kenal melalui berita dan belum pernah bertemu sebelumnya.

Iring-iringan Abu Dzar begitu gagap gempita. Barusan berkuda dan iringan berjalan kaki meneriakkan takbir sehingga menyebabkan suara gemuruh. Para penduduk kota mengira mereka akan menyerang kota mereka.

Langkah mereka terhenti di depan masjid Rasulullah yang sekaligus merupakan tempat kediaman beliau. Melihat kehadiran Abu Dzar bersama kaumnya dalam jumlah besar tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Sunggu Allah memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya”

Beliau menoleh kea rah suku Ghifar dan berkata, “Suku Ghifar telah di-ghafar (diampuni ) oleh Allah!”

Hari-hari bersama Rasulullah saw, beliau telah melembutkan hati dan tabiatnya. Abu Dzar senantiasa memegang teguh prinsip kebenaran dan memperjuangkannya. Ia selalu mengingatkan kaumnya saat mereka tergelincir. Kata-katanya menukik tajam sehingga selalu mengena pada hati yang sedang goyah. Dialah Abu Dzar yang memiliki semangat dan keberanian luar biasa dalam mendakwahkan agama Allah swt.