Saturday, October 12, 2013

DIAZAB GILA KARENA MENELANTARKAN KELUARGA

Setiap perbuatan pasti ada balasannya.
Hal itulah yang diterima oleh Mansyur karena menelantarkan anak serta istrinya demi perempuan lain dan mabuk-mabukan.
Ia mendadak hilang ingatan alias GILA.

Berikut Kisahnya.
Sebelum kecantol dengan perempuan lain dan mabuk-mabukan, Mansyur tergolong orang yang sukses.
Dia dahulu dikenal sebagai pekerja keras, dan karena keuletannya, dia diangkat sebagai manager perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah rumah dan mobil pun berhasil ia miliki.


Namun, kesuksesan dan kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Lemahnya iman dan tak kuasa mengendalikan nafsu dunianya, Mansyur tergoda dengan wanita panggilan dan kerap kali mabuk-mabukan. Perubahan pun terjadi, dari semula Mansyur yang begitu baik dan perhatian pada istri dan anak-anaknya, mendadak bersikap dingin dan kera tak pulang dengan alasan bisnis.

Berbagai alasan pun sering ia ungkapkan pada istrinya setiap kali menanyakan keberadaannya.
Mansyur malah bersenang-senang sendiri dengan perempuan lain di tempat hiburan malam. Entah berapa banyak wanita yang sudah menjadi teman kencannya, bahkan tak hanya di dalam kota saja, Mansyur juga sering menghabiskan waktu akhir pekannya bersama perempuan penghibur di luar kota.

Mansyur pun kini juga tak lagi memberikan nafkah lahir pada sang istri. Uang dari hasil usahanya juga habis ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya mabuk-mabukan dan habis di meja judi.
Sungguh drastis perubahan yang ia alami.

Mabuk-Mabukan.
Mansyur yang seharusnya menjadi contoh untuk anak buahnya agar bersikap baik dan disiplin, malah mempelopori beberapa anak buahnya untuk minum.

"Han, ayo pesta lagi," ajak Mansyur kepada Johan.
"Siap bos," jawab Johan, anak buah Mansyur.
"Ayo kita habiskan minuman ini," seru Mansyur.

Dengan ditemani beberapa temannya, Mansyur yang juga dikenal sebagai jago minum ini pun dengan semangat menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol.
"Siapa yang masih kuat, dia yang menang," tantang salah satu temannya.
"Ayo, aku sudah habis nih," ejek Mansyur kepada temannya.

Di saat isi beberapa botol minuman tersebut mulai habis, saat itulah Mansyur mulai menyerah.
Beberapa kali ia terlihat muntah karena banyaknya minuman yang ditenggaknya, hingga sempoyongan tak kuat menahan badan.

Diazab Gila.
Suatu hari, ada sebuah peristiwa yang membuat nasibnya berbalik 180 derajat.
Kebiasaannya yang kerap kali mengajak mabuk-mabukan anak buahnya di tempat kerja, ia pun dipecat dari perusahaannya.
"Pak Mansyur, mulai sekarang Anda harus berhenti bekerja dari kantor ini. Sikap Anda telah menjatuhkan nama perusahaan kita," tegas pimpinan perusahaan tempat dia bekerja.

Tak hanya itu saja, rahasia Mansyur yang telah menggelapjan uang perusahaan pun ikut terbongkar.
Mobil, rumah dan sejumlah barang berharga miliknya juga disita.
Tak pelak lagi, pikiran Mansyur pusing tak karuan.

Karena kejadian itu, Mansyur pun tak makan berhari-hari, ia mulah sering merenung dan menyendiri. Parahnya lagi, istri dan anak-anaknya yang tak tahu apa-apa malah menjadi sasaran kekesalannya.

Hari demi hari kejiwaan Mansyur mulai goncang, ngomel tak karuan, tertawa sendiri, bahkan marah-marah tanpa sebab.
Ia pun kini hidup di jalanan.

Inilah balasan setimpal yang diterima Mansyur karena menelantarkan anak dan istrinya, hingga ia pun menjadi gila.

POHON TUMBUH DARI BATU

Atas tantangan petinggi Quraisy untuk menunjukkan mukjizat, Rasulullah SAW mampu membelah batu dan keluarlah pohon besar dari tengah-tengah batu itu.
Para petinggi Quraisy pun takjub dibuatnya.


BERIKUT KISAHNYA.
Abu Jahal dikenal sangat keras menentang dakwah Rasulullah SAW. Maka disebarkanlah isu kontroversial tentang pribadi Rasulullah. Dalih utamanya adalah pelecehan terhadap agama nenek moyang, sehingga meresahkan masyarakat.

Abu Jahal kemudian mencari jalan lain.
Ia berfikir, Abu Thalib tentu bisa menghentikan dakwah kemenakannya tersebut. Maka dengan mengajak beberapa pembesar Quraisy, ia mendatangi rumah Abu Tahlib.

Ketika tiba di rumah Abu Thalib, Abu Jahal pun berkata,
"Hai Abu Thalib, apakah engkau biarkan tindakan kemenakanmu itu?"
Mendengar pengaduan itu, Abu Thalib mempersilahkan tamunya untuk masuk rumah.
"Tuan-tuan yang terhormat, silahkan duduk terlebih dahulu.Akan kupanggilkan Muhammad agar kita bisa mendengar sendiri apa komentarnya," jawab Abu Thalib sambil bergegas mencari Nabi.

RASULULLAH SAW MENOLAK.
Di hadapan para tamunya, Abu Thalib pun menasehati kemenakannya agar menghentikan dakwahnya. Namun dengan penuh yakin dan tanggung jawab, Rasulullah SAW menolak.

Mendengarkan sumpah yang dilontarkan oleh Rasulullah SAW tersebut, Abu Jahal terdiam.
Kemudian seorang kawannya menyela,
"Hai Abu Thalib, jika apa yang Muhammad dakwahkan itu benar, coba katakan kepadanya agar ia memperlihatkan sebuah mukjizat kepada kami, sebagai bukti kerasulannya, sehingga kita dapat menyaksikan kebenaran dakwahnya."

Abu Thalib berkata,
"Hai kemenakanku, bagaimana pendapatmu menanggapi permintaan mereka itu?"tanya Abu Thalib kepada Rasulullah SAW.
Dengan nada tegas, Rasulullah SAW balik berkata,
"Katakan apa yang kalian minta."

Mendengar jawaban Nabi itu, kawan Abu Jahal tadi pun menoleh ke halaman rumah Abu Thalib. Kebetulan di sana ada sebuah batu besar, maka ia minta agar batu itu terbelah seketika, lalu dari dalamnya keluar sebatang pohon raksasa bercabang dua menjulur sampai ke bumi sebelah timur, dan cabang lain ke ujung bumi sebelah barat.

PERMINTAAN ANEH.
Mendengar tantangan yang disampaikan rekannya, Abu Jahal tersenyum puas, tanda setuju atas permintaan kawannya itu.
"Sebuah permintaan aneh. Mustahil Muhammad dapat melakukan semua itu, karena memang di dunia ini belum pernah ada sabatnag pohon yang tumbuh secara tiba-tiba dan pohonnya jauh lebih besar ketimbang batunya," guman Abu Jahal dalam hati.

Namun hal itu tidaklah mustahil bagi Rasulullah SAW, Beliau dekati batu itu dan berdoa memohon pertolongan Allah SWT.
Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya seraya menunjuk ke arah batu itu. 

Tanpa diduga, tiba-tiba batu yang berada di hadapan puluhan orang itu terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluar sebatang pohon. Dalam sekejap, pohon itu membesar dan terus membesar hingga memenuhi halaman rumah Abu Thalib yang sedemikian luasnya.
Bersamaan dengan itu, tumbuh pula dua cabang raksasa seakan membelah langit, satu cabang menjulur ke arah barat sejauh mata memandang, dan satu cabang lainnya menjulur ke timur hingga menutupi pandangan mata.

Melihat kejadian yang sangat menkjubkan dan aneh tersebut, Abu Jahal bersama kawan-kawannya benar-benar tercengang melihatnya. 
Dan seorang dari mereka berkomentar,
"Hai Muhammad, kau telah memperlihatkan kehebatanmu. Tapi kami tidak akan beriman sebelum kamu dapat mengembalikan pohon itu seperti sedia kala."


Rasulullah SAW termenung dan berfikir sejenak.
Sejenak kemudian Rasulullah berdoa, dan secara tiba-tiba pula pohon raksasa itu pun mengecil. Ia terus mengecil smapai akhirnya masuk ke dalam batu, dan batu itu kemudian utuh kembali sepertti semula.
Subhanallah.

RASULULLAH MENAKLUKKAN BUMI

Kaum kafir Quraisy tidah henti-hentinya melakukan penyerangan dan membuat strategi untuk membunuh Rasulullah SAW. Mereka pun mengumpulkan para gembong kafir Quraisy untuk bermusyawarah di Darun Nadwah.
Dan akhirnya pemuka Quraisy mengambil keputusan dengan mengambil sayembara, yaitu barang siapa yang berhasil menangkap Rasulullah hidup-hidup atau mati maka akan diberi hadiah 100 ekor unta. Pengumuman pun disebarkan ke seluruh kaum kafir Quraisy.

Mendengar pengumuman itu, salah seorang dari kaum kafir Quraisy yang bernama Suraqah langsung angkat bicara dan berkata,

"Akulah yang sanggup menangkap Muhammad dan menyeretnya ke hadapan kalian, bahkan aku tak segan-segan untuk menebas batang lehernya," ucapnya dengan lantang.

Dalam golongan Quraisy, Suraqah terkenal sebagai jagoan menunggang kuda. Setelah berkata demikian, Suraqah keluar dan mempersiapkan kuda yang paling bagus untuk mengejar Nabi Muhammad yang diperkirakan belum begitu jauh dari kota Makkah.

Semangat Suraqah untuk mendapatkan 100 ekor unta menjadikan ia sangat giat mencari jejak-jejak Rasulullah yang akhirnya ditemukan. Suraqah menjadi lebih bersemangat dan lebih kencang lagi memacu kudanya dan akhirnya ia melihat dua bayangan yang ternyata adalah Rasulullah dan Abu Bakar.

MALAIKAT JIBRIL DATANG.
Rasulullah SAW dan Abu Bakar melihat pula kedatangan Suraqah yang mengendarai kuda dengan kencangnya. Ketika Suraqah telah semakin dekat dengan mereka, Abu Bakar berkata,
"Ya Rasulullah, kita telah ditemukan oleh Suraqah dan Suraqah adalah orang Arab yang pemberani."
Rasulullah menjawab,
"Engkau jangan takut, sesungguhnya Allah bersama dengan kita."

Jarak Suraqah telah begitu dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar, dan Suraqah hendak menghunus pedangnya.
"Wahai Muhammad, Siapakah yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu pada hari ini," kata Suraqah.
"Allah lah yang bisa menolongku," jawab Rasulullah dengan tegas.

Lalu, datanglah Malaikat Jibril untuk mengabarkan bahwa bumi ini ditundukkan kepada perintah Rasulullah SAW. Maka Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah untuk mengendalikan bumi.
Begitu diberitahu oleh Malaikat Jibril, Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada bumi agar menarik kaki kuda Suraqah ke dalam bumi.
"Wahai bumi, ambillah Suraqah dan kudanya sampai sebatas lutut," perintah Rasul.

TAK PERNAH JERA.
Suraqah pun terpelanting jatuh tersungkur, ia terkejut dan langsung memohon kepada Rasulullah untuk menyelamatkan dirinya dari bumi yang hendak menelannya. Kemudian Rasulullah berdoa kepada Allah dan selamatlah Suraqah beserta kudanya.

Setelah Suraqah selamat, ia bukannya menepati janji, malah justru sebaliknya, ia malah mengulangi perbuatannya hendak membunuh Rasulullah dengan pedangnya. Namun, setiap kali Suraqah mengarahkan pedangnya kepada Rasulullah, ia dan kudanya selalu terperosok ke dalam tanah. Suraqah belum jera juga, ia terus menerus bangkit hingga kejadian itu berlangsung sebanyak 7 kali.

Hingga ke 8 kalinya, akhirnya ia bertobat dan jera atas perbuatannya.
"Wahai Muhammad, aku ini mempunyai beberapa unta dan binatang ternak lainnya yang bisa dipakai bekal dalam perjalananmu, maka penggembala nanti akan mengambil semua itu untuk engkau pakai sekehandak hatimu," kata Suraqah.

"Wahai Suraqah, jika engaku tidak suka pada agama Islam, aku pun tidak menyukai harta dan binatang ternakmu," jawab Rasulullah.
Suraqah akhirnya masuk Islam dan ia meyakini kerasulan Nabi Muhammad dan mengimani Allah SWT.

PERJALANAN NABI MUSA MENCARI NABI KHIDIR

Pada suatu waktu Nabi Musa pernah bertanya kepada kaumnya, siapa manusia yang lebih pintar dan berilmu lebih dari yang ia miliki.
"Wahai kaumku, adakah manusia di muka bumi ini yang kepandaiannya melebihi aku? Yang ilmunya lebih banyak daripada aku?"
(Nabi Musa bertanya demikian semata pasti ingin mempelajari ilmu biar tambah berilmu, bukan bermaksud sombong sedikitpun di hadapan manusia).

Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab, dan akahirnya Nabi Musa membawa pertanyaan pada Allah SWT, pencipta alam semesta.
"Ada. Di muka bumi itu masih ada yang lebih dari dirimu Musa," Allah berfirman.
"Lalu dimanakah tempat orang itu berada, Ya Allah?" tanya Nabi Musa.
"Dia berada di antara pertemuan dua laut," Allah berfirman lagi.
"Dalam perjalananmu nanti, bawalah seekor ikan. Nantinya ikan itu akan meninggalkanmu. Dia akan mencari jalan sendiri ke pantai atau laut. Di tempat itulah orang yang kau cari berada."

Akhirnya, Nabi Musa memulai perjalanannya. Selama itu, dia ditemani oleh pembantunya yang bernama Yusyi' bin Nun. Nabi Musa berpesan kepadanya,
"Ingatkanlah aku bila ikan ini lepas dan meningglakan kita."
"Baiklah," jawab Yusyi'.
Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Dan setelah berjalan cukup jauh, Nabi Musa dan pembantunya merasa lelah. Nabi Musa memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah batu besar.

Karena lelahnya, Nabi Musa dan Yusyi' tertidur lelap dan mereka tidak sadar kalau ikan yang mereka bawa terlepas. Ikan itu meninggalkan mereka menuju ke pantai.
Sesaat kemudian, keduanya terbangun dan melanjutkan perjalanan cukup jauh hingga kemudian keduanya merasa lelah lagi.

Kali ini bukan hanya lelah saja yang mendera, namun juga perut yang mulai terasa sangat lapar.
"Apakah engkau tidak merasa lelah dan lapar Yusyi?" tanya Nabi Musa.
"Ya, saya pun merasa lelah dan lapar," jawab pembatunya itu.

"Kalau begitu, kita berhenti di sini sebentar," pinta Nabi Musa kepada pembantunya.

BERTEMU NABI KHIDIR.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Nabi Musa untuk menjadikan ikan yang mereka bawa untuk makan siang.
"Dimanakah ikan yang kita bawa tadi? Daripada kita kelaparan, biarlah ikan itu kita masak dan kita jadikan makan siang," Ujar Nabi Musa.

Yusyi' tersentak kaget, dia baru ingat bila Nabi Musa tadi berpesan untuk menjaga ikan itu dan melihat tempat lepasnya. Tapi kini, ikan itu telah lepas tanpa dia tahu keberadaannya."
"Maaf ya Nabi, aku telah lalai dengan pesanmu. Ikan yang kita bawa tadi telah lepas tanpa sepengetahuanku," kata Yusyi penuh penyesalan.
"Tidak Yusyi', ini juga salahku, setan telah membuat aku lupa dan lalai. Seharusnya aku yang lebih bertanggung jawab dan memperhatikan keadaan ikan itu," sahut Nabi Musa.


"Apakah kamu masih bisa mengingat kapan terakhir ikan itu bersama kita?" tanya Nabi Musa.
"Kalau tidak salah, sewaktu kita beristirahat di bawah batu besar tadi ikan itu masih bersama kita. Aku tidak tahu lagi, setelah kita melanjutkan perjalanan, mungkin ikan itu terlepas saat kita tidur," jelas Yusyi'.
"Kala begitu, itulah tempat yang kita cari," seru Nabi Musa sangat senang.

Keduanya pun segera berbalik arah mengikuti jejak pulang ke tempat yang mereka maksud, yaitu batu besar yang sebelumnya jadi tempat peristirahatan mereka.
Setelah keduanya sampai, sesaat kemudian keduanya bertemu dengan Nabi Khidir. Nabi Khidir adalah orang yang dimaksudkan oleh Allah SWT.
Beliau lebih banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah dibandingkan dengan Nabi Musa a.s.

MAKAM MENJADI ISTANA

Kisah teladan yang kesekian kalinya tentang ahli kubur yang memiliki istana megah karena di masa hidupnya telah menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk menampung anak yatim.
Kisah islami ini sangat cocok untuk diteladani dewasa ini.

Pada suatu hari, Haidar bermimpi bertemu dengan Tufail, sahabatnya yang sudah meninggal dunia. Ia bermimpi bahwa Tufail ini telah mendapat istana di alam kuburnya.
Menurut istrinya, semasa hidup, suaminya istiqamah memelihara anak yatim dan bersedekah.

BERIKUT KISAHNYA.
Tufail, sahabat Haidar ini sangat gemar bersedekah dan memelihara anak yatim piatu.
Tufail juga dikenal sebagai orang kaya yang suka menolong tetangganya, serta tekun beribadah. Namun suatu saat, ia meninggal dunia dengan cepat, dan meninggalnya setelah shalat Ashar.

Tepat di hari yang ke tiga puluh setelah Tufail wafat, haidar bermimpi, ia datang ke suatu tempat yang sangat indah. Dia berjalan di suatu lorong yang sangat panjang, dan di dalam lorong itu dia menemukan berbagai macam tempat yang indah.
Lorong itu bagaikan istana yang terbuat dari emas.

Sayang sekali, baru beberapa saat dia berjalan, ia terbangun dari tidurnya,
"Wah, indah sekali lorong itu, istana apakah itu? Aku belum pernah melihat lorong sebagus itu sebelumnya," ujarnya dalam hati.

Dan dua hari kemudian, saat Haidar tertidur setelah seharian bekerja, dia bermimpi kembali ke dalam lorong itu. Kali ini perjalanan lebih jauh, Haidar sampai melewati sebuah kolam yang sangat panjang dengan air yang jernih sekali.
"Subhanallah, tempat apa ini ya? Tempat ini penuh dengan permata, sinarnya sangat menyilaukan mata," kata Haidar dalam hati.

WANITA CANTIK.
Melihat tempat itu, seketika Haidar ingin memasukinya, kemudian ia melihat sosok lelaki yang dikellingi wanita cantik dengan sayap di belakangnya.
Namun belum sempat dia melihat wajah laki-laki itu, ia keburu terbangun lagi dari tidurnya.
"Siapakah lelaki itu?" gumannya dalam hati.

RASA PENASARAN HAIDAR.
Nampaknya mimpi itu telah terbawa hingga siang hari, Haidar merasa kagum. Beberapa hari kemudian, Haidar bermimpi lagi, dan mimpi yang sama terulang dan bahkan berlanjut.
Dia menyusuri lorong itu dan memasuki ruangan yang terbuat dari permata. Dan betapa terkejutnya Haidar, karena dari belakang ada seorang laki-laki yang menyapanya dengan suara keras,
"Hai Haidar, kemarilah."
Haidar merasa tidak asing dengan suara itu dan ketika berbalik ke belakang, Haidar terkejut karena lelaki itu adalah sahabatnya, Tufail.

"Masya Allah Tufail, ternyata engkau bertambah muda dan tampan," kata Haidar dengan senang.
"Iya aku, karena sejak dulu aku suka dan ikhlas bersedekah dan memelihara anak yatim. Karena itulah Allah SWT mengganti makam ini menjadi istana dan beberapa bidadari cantik yang tak ternilai," nasehat Tufail kepada Haidar.

Namun belum sempat Haidar betanya hal lainnya, dia keburu terbangun lagi. Dan keesokan harinya Haidar sudah tidak mengalami mimpi itu lagi.
Karena diselimuti rasa penasaran yang tinggi, Haidar mencoba mencari tahu sosok Tufail dengan mendatangi rumahnya.
Sesampainya di rumah Tufail, ia disambut oleh seorang wanita yang tak lain adalah istri Tufail. Di dalam rumah itu banyak sekali anak-anak kecil dan Haidar pun menceritakan perihal mimpinya kepada istri Tufail.
Setelah menceritakan mimpinya, Haidar bertanya,
"Apa amalan Tufail selain senang bersedekah?" ytanya Haidar.

"Dia senang sekali memelihara anak yatim piatu. Rumah ini dia jadikan tempat tinggal orang-orang terlantar," cerita wanita paroh baya itu.
Haidar semakin mengagumi sosok Tufail karena dia tidak hanya senang bersedekah, namun ia juga terkenal ramah dan gemar memelihara anak yatim.

JERITAN IBLIS SAAT SAKARATUL MAUT

Saat kiamat nanti, semua yang hidup akan mati, tidak terkecuali iblis dan anak keturunannya. Disebutkan bahwa Iblis sangat sengsara pada saat naza' atau proses pencabutan nyawa.

BERIKUT KISAHNYA.
Dalam kitab karya Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy diceritakan bahwa saat sangkakala kematian ditiup, maka terkejutlah semua penghuni langit dan bumi. Gunung-gunung berjalan, langit terbalik dan bumi bergoncang, orang yang hamil akan melahirkan bayinya, orang yang menyusui lupa pada anak yang disusuinya, anak-anak jadi ubanan, matahari mengalami gerhanan, manusia lupa diri dan setan pun bingung.

Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat adalah goncangan yang sangat besar (dahsyat)."
(QS. Al-Hajj: 1).

TIUPAN SANGKA KALA.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Apakah kalian mengetahui tentang hari tersebut?"
Merka menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."


Nabi Muhammada SAW bersabda,
"Pada hari itu Allah berfirman kepada Adam a.s,
"Bangunlah dan pilihlah dari anak cucumu yang memilih neraka. 'Berpaa orang dari tiap 1000 orang?' 
Allah SWT berfirman,
Dari setiap 1000 orang, ada 999 orang di neraka dan satu orang di surga."

Maka sangatlah berat keadaan kaum pada saat itu, kebanyakan mereka menangis dan bersusah hati.
Lalu Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya aku mengharapkan 2/3 diantara kalian adalah ahli surga."
Nabi bersabda lagi,
"Bergembiralah kalian, sesungguhnya kalian adalah bagian dari beberapa umat, seperti rambut pada lambung unta, sesungguhnya kalian adalah satu bagian dari seribu bagian umat."

Kemudian Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala dengan tiupan yang mematikan, maka ditiup sangkakala dan malaikat israfil berkata,
"Wahai para ruh yang telanjang, keluarlah kalian atas perintah Allah SWT."

Maka binasa dan matilah seluruh penghuni langit dan bumi kecuali orang yang dikehendaki Allah, maka sesungguhnya mereka hidup di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman,
"Hai malaikat maut, sesungguhnya Aku menciptakan bagimu sebanyak bilangan orang-orang yang pertama sampai yang terakhir sebagai pemabantu, dan Aku menjadikan untukmu kekuatan langit dan bumi, dan sesungguhnya hari ini Aku memberimu pakaian kemurkaan, maka turunlah dengan kemurkaan-Ku dan cambuk-Ku pada iblis yang terlaknat, maka timpakanlah kematian kepadanya dan bawalah padanya pahitnya kematian orang-orang dari yang pertama sampai yang terkahir dari manusia dan jin dengan berkali-kali lipat. 
Dan bawalah besertamu 70.000 malaikat zabaniyah, beserta setiap malaikat sebuah rantai dari neraka Lazha."

IBLIS MENANGIS.
Lalu malaikat maut memanggil para malaikat untuk membuka pintu-pintu neraka, maka turunlah malaikat maut dengan rupa yang sangat menakutkan. Setelah sampai di hadapan iblis, malaikat maut menangkapnya hingga pingsan, iblis menjerit dengan jeritan yang seandainya seluruh penghuni langit dan bumi mendengarnya, maka pingsanlah mereka sebab jeritan iblis tersebut.

Malaikat maut berkata,
"Hai iblis, rasakanlah olehmu kematian pada hari ini, berapakah umur yang telah engkau habiskan dan berapakah lamanya engkau telah menyesatkan (manusia)."


Maka larilah iblis ini ke arah timur dan ketika sampai di timur, malaikat maut sudah berada di sana. Iblis pun berlari ke arah barat dan malikat maut pun sudah berada di sana, kemanapun iblis lari, malaikat maut selalu ditemuinya.

Iblis berkata,
"Hai malaikat maut, dengan gelas apa engkau memberiku minum?"
Malaikat maut menjawab,
"Dengan gelas dari neraka Lazha dan neraka Sa'ir."

Iblis pun terjatuh ke bumi berkali-kali, sehingga ia berada di tempat yang sangat hina dan dilaknati. Lalu malaikat zabaniyah menurunkan gantolan, menarik dan menikamnya dengan tombak, maka iblis itu mengalami naza' (proses pencabutan nayawa) dan sakaratul maut yang teramat menyakitkan.

MATI KHUSNUL KHATIMAH BERKAT ANJING

Kisah kali ini tentang tobatnya seorang pembunuh, hingga dia mati khusnul khatimah karena jasa baiknya dengan menolong seekor anjing yang sedang sakit parah.

Tobat Nasuha telah dilakukan, namun warga ada yang masih menaruh dendam dan akhirnya membunuhnya. Sebuah kisah yang cocok dibaca di malam hari sebagai renungan kita bersama bahwa hanya Allah saja yang menentukan hidup dan mati seseorang, apakah mati secara khusnul khatimah atau pun Su'ul Khatimah.

BERIKUT KISAHNYA.
Pada zaman dahulu hiduplah seorang ulama besar bernama Abdul Qodir Al Idrus di Turki. Ulama ini memiliki seekor anjing yang menemaninya di sebuah tempat yang sepi.
Dengan bertambahnya usia, Abdul Qodir Al Idrus sering sakit-sakitan, hingga tidak bisa mengurus anjingnya dengan baik.

Anjing ini lambat laun kondisinya semakin memburuk dan akhirnya sakit, tubuhnya penuh dengan koreng dan anjing inimulai menyendiri. 
Di waktu yang bersamaan, ada seorang penduduk di Turki ini yang dikenal sebagai pembunuh, dan sebut saja namanya Arham bin Hamid. Ia telah membunuh lebih dari 50 orang sehingga menjadi buron warga setempat.

MENYELAMATKAN ANJING.
Arham akhirnya lari bersembunyi di hutan, dan entah sudah berapa lama dia hidup di kawasan hutan hingga suatu saat ia menemukan seekor anjing yang sedang sakit keras.
Dengan sorot mata yang tajam, pembunuh ini terus menatap anjing yang sedang terkulai lemas karena penyakit yang di deritanya.

Arham akhirnya mendekati anjing tersebut dan berkata,
"Wahai anjing yang malang, antara aku dan kamu sama-sama menderita, kini kau menjadi temanku dan aku berjanji akan mengobati lukamu hingga kau merasa baikan."

Sejak saat itu, anjing tersebut dalam perawatan Arham, dan seminggu kemudian mulailah terlihat ada kemajuan mengenai kesehatan si anjing ini, dan hal itu ditunjukkan dengan berlarinya anjing mengitari hutan.
Arham pun akhirnya terus mengikuti larinya anjing ini karena saking riangnya.

Terlihat keceriaan di antara mereka berdua, dan tanpa terasa anjing dan Arham ini keduanya telah keluar dari hutan rimba menuju kota Andulussi. Namun tiba-tiba saja sang pembunuh merasa kaget ketika dirinya masih tetap saja diburu oleh warga setempat.
"Pembunuh..pembunuh..," begitu terika orang-orang.
Tanpa bisa mengelak lagi, Arham dikeroyok oleh orang banyak yang masih memiliki rasa dendam kepadanya.

AHLI SURGA.
Pada saat amukan massa mulai tidak bisa terkontrol, datanglah Abdul Qodir Al Idrus melerai mereka. Dan semua masyarakat tahu betul siapa Abdul Qodir, hingga warga mundur dan berdiri di belakang Abdul Qodir Al Idrus.

Tak berapa lama kemudian, Abdul Qodir Al Idrus langsung menghampiri sosok Arham si pembunuh yang sudah tidak bernyawa lagi ini. Salah seorang warga maju dan memberitahukan bahwa yang mereka keroyok itu adal seorang pembunuh, jadi sudah sepantasnyalah dia mati.

Dengan wajah tenang, Abdul Qodir Al Idrus berdiri lalu berkata,
"Wahai kalian semua, ketahuilah bahwa sesungguhnya yang telah kalian bunuh ini adalah ahli surga, ia mati dalam keadaan khusnul khatimah karena amalnya yang telah merawat anjing dari penyakit yang di deritanya. Dan sebagai pembuktiannya, kuburlah dia baik-baik, niscaya kalian semua akan melihatnya."

Antara takut dan penasaran, masyarakat akhirnya menguburkan jasad sang pembunuh ini layaknya orang yang beriman pada umumnya. Pada saat penguburan telah selesai, tiba-tiba dari atas langit bermunculan ratusan bidadari yang menyerukan shalawat Nabi dengan merdunya sebagai pengiring doa orang-orang yang diterima amal kebaikannya.

KALAJENGKING DI PERUT PEMABUK

Kisah kali ini tentang pemabuk.
Di dalam kitab Daqoiqul Akbar disebutkan bahwa azab bagi para pemabuk di akhirat kelak adalah perutnya dipenuhi kalajengking, ular serta api neraka.

BERIKUT KISAHNYA.
Telah diriwayatkan oleh sahabat Ubay bin Ka'ab bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Pada hari kiamat, orang-orang yang minum arak (pemabuk) akan dihadirkan dengan kendi arak dikalungkan pada lehernya. Sedangkan tambur (alat bunyi-bunyian) berada di telapak tangannya hingga mereka disalib di atas kayu api neraka.

Dari mulut para pemabuk itu keluar bau arak, sehingga orang-orang yang berdiri di sekitarnya menjadi sakit dan mereka memnta pertolongan kepada Allah SWT karena bau busuk mereka. Maka, nerakalah orang-orang yang meminum arak itu.

Ketika dilemparkan ke dalam api neraka, para pemabuk itu menjerit selama 1.000 tahun.
"Aduuh...aku sangat panas, ampun.., berilah aku minum," teriaknya kepanasan.

KERINGAT BUSUK.
Kemudian mereka memanggil-manggil malaikat Malik, akan tetapi Malaikat Malik tidak menjawab panggilan itu selama 80 tahun. Maka jadilah bau keringat mereka menjadi busuk hingga menyakiti tetangga mereka yang ada di neraka.

Lalu, para pemabuk itu memanggil-manggil kembali Asma Allah untuk meminta agar keringat busuk itu dihilangkan.
"Wahai Tuhan kami, hilangkanlah keringat kami," pekiknya tersiksa.

Namun Malaikat Malik tidak menghiraukan mereka, malah Malaikat Malik mengambil dari neraka berupa air yang mendidih dan menyiramkan pada tubuh para pemabuk itu. Para pemabuk makin meringis kesakitan dengan siraman itu.

Tak lama kemudian tangan pemabuk itu terbelenggu, wajah mereka diseret dengan rantai di neraka. Ketika para pemabuk itu merintih-rintih dan meminta minuman, maka didatangkanlah pada mereka air yang mendidih hingga ketika mereka meminumnya, terputuslah usus mereka.

"Berilah aku makanan," pekik mereka yang merasakan lapar.
Malaikat Malik kemudian memberikan kayu Zaqqum dari dasar neraka. Ketika kayu itu dimakan, maka apa yang ada di dalam perut pemabuk itu meleleh serta otaknya juga mendidih.

Maka, keluarlah kobaran api yang menjilat-jilat dari mulut yang diikuti dengan keluarnya isi perut mereka. Tidak hanya itu, lalu setiap orang dari pemabuk itu dimasukkan ke dalam peti yang terbuat dari bara api selama 1.000 tahun, yang tempatnya sangat sempit.
Kemudian para pemabuk itu dikeluarkan dan dimasukkan dalam penjara neraka serta dibelenggu dengan api selama 1.000 tahun juga, sampai mereka merasakan haus yang tiada tara.

NERAKA WAIL.
Namun rintihan pemabuk itu tidak dihiraukan olah Malaikat Malik, dan sebaliknya Malaikat Malik menyuruh ulara dan kalajengking yang besarnya seperti leher unta untuk menggigit kedua telapak kaki pemabuk itu. Kemudian mereka dipakaikanlah mahkota dari api di atas kepala mereka.

Setelah genap 1.000 tahun mereka dipenjara di neraka, lalu dimasukkanlah mereka ke dalam neraka Wail. Neraka Wail merupakan nama jurang dari neraka Jahanam yang sangat panas serta kedalamannya juga sangat dalam.
Di dalamnya terdapat banyak sekali rantai-rantau, ular dan kalajengking.
Ular dan kala jengking itu masuk ke rongga mulut para pemabuk hingga memenuhi perut mereka. Mereka tinggal di dalam neraka Wail selama 1.000 tahun, kemudian mereka memanggil-manggil nama Rasulullah SAW.

"Aduh...Muhammad," teriak para pemabuk itu.
Kemudian Nabi Muhammad SAW mendengar suara itu lalu memohon kepada Allah SWT.
"Ya Tuhanku, telah aku dengar suara seorang dari umatku," tutur Rasul.
Maka Allah SWT berfirman bahwa suara itu berasal dari orang-orang yang gemar mabuk selama di dunia.

JADI SAUDARA SETAN DENGAN 50 DINAR

Kisah kali ini akan menceritakan tentang kisah saudara kembarnya setan yang berupa manusia, dimana saudaranya setan itu ada yang mau bertobat dan ada yang malah makin menjadi zalimnya.

Saudaranya setan adalah, pemabuk, pezina, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan orang yang pelit yang akan dikisahkan dalam cerita ini.
Namun diantara semua saudara setan yang disebutkan di atas, hanya si pelit lah yang tidak mau bertobat kepada Allah SWT.

BERIKUT KISAHNYA.
Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang sudah lama menikah, namun belum dikarunia anak, sebut saja namanya Fulan. Entah putus asa atau karena nekat atau jengkel, si Fulan suatu hari bernazar,

"Seandainya aku dikarunia anak oleh Allah, aku akan bersedekah kepada saudara-saudaranya setan masing-masing 50 dinar."

Wallahu A'lam, apakah karena nazarnya atau memang sudah menjadi kehendak Allah SWT, tak lama kemudian istrinya hamil dan melahirkan seorang putra. Betapa gembiranya si Fulan dan istrinya mendapatkan karunia tersebut.

SETAN INGATKAN NAZARNYA
Pada suatu malam, Fulan bermimpi bertemu dengan setan di dalam tidurnya, setan berkata,
"Wahai Fulan, jangan lupakan nazarmu untuk bersedekah kepada saudara-saudaraku."
"Siapakah saudara-saudaramu?" tanya Fulan.
"Carilah pezina, pemabuk, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya dan orang yang pelit serta serakah, mereka itulah saudara-saudaraku," jawab setan.

Setelah terbangun dari tidurnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil uangnya dan melangkah mencari saudara-saudara setan yang disebutkan dalam mimpi itu. Awalnya si Fulan mencari saudara setan di kampungnya, namun dia tidak menemukan seorang pun.
Akhirnya ia berjalan menuju desa sebelah.

Orang pertama yang dijumpai adalah seorang pezina.
Ketika disodorkan uang sebanyak 50 dinar, pezina heran dan bertanya,
"Dalam rangka apa engkau memberiku uang ini?".
Si Fulan kemudian menceritakan mimpi yang dia alami.
Mendengar cerita mimpi itu, sang pezina langsung saja bersujud dan menangis serta bertobat kepada Allah SWT.
Sang pezina tidak mau kalau dirinya dikatakan saudarnya setan, dan uangnya ditolak mentah-mentah.

Si Fulan berjalan lagi mencari saudaranya setan, dan orang kedua yang ditemui adalah sang pemabuk. Langsung saja si Fulan menyodorkan uang 50 dinar kepada pemabuk itu. Sang pemabuk bertanya,
"Kenapa engkau meberiku uang sebanyak ini, padahal aku adalah pemabuk yang suka menhambur-hamburkan uang untuk membeli minuman keras?"
Si Fulan menjawab,
"Justru itulah aku memberimu uang 50 dinar ini agar kamu bisa membeli minuman keras."
Lalu si Fulan menceritakan mimpinya.

Uang 50 Dinar
Mendengar penuturan si Fulan, pemabuk itu pun jatuh tersungkur, langsung sujud mohon ampun kepada Allah SWT, istighfar diucapkannya berulang kali dan si pemabuk tak mau menjadi saudara kembarnya setan sedikitpun. Dan ia pun tidak mau menerima uang itu.

Penolakan yang sama juga dialami oleh penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Dengan langkah lemas si Fulan mencari satu lagi orang yang dianggap saudaranya setan ini. Lama dia mencari dan akhirnya bertemulah dia dengan si pelit bakhil. Tak menunggu lama, si Fulan langsung menuju rumah si pelit ini.
Dalam hati, si Fulan terbersit rasa kekhawatiran, si pelit juga pasti akan menolak pemberian 50 dinar yang dibawanya.

"Assalamu'alaikum...," ucap si Fulan.
"Ada keperluan apa?" jawab si pelit.
"Aku ingin memberimu uang 50 dinar," kata si Fulan dari dalam rumahnya.

Begitu mendengar kata uang, si pelit langsung saja membuka pintu rumahnya dan segera menyambar kantong uang yang ada di tangan si Fulan.
"Mengapa engkau memberiku uang sebanyak ini, apa kau pernah punya hutang kepadaku?" tanya si pelit.


Lalu si Fulan menceritakan nazar serta mimpi yang dialaminya, dan tak lupa dia ceritakan juga pertemuannya dengan pezina, pemabuk, penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Mendengar kisah yang disampaikan si Fulan, Si Pelit ini langsung saja memegang tangan si Fulan sambil berkata,
"Kalau mereka tidak mau menerima uangnya, berikan saja kepadaku," bisik si pelit.

Dengan mata terbelalak, si Fulan yang bernazar itu menyerahkan uangnya dan beranjak pergi dari rumah si pelit seraya berkata,
"ENGKAU BENAR-BENAR SAUDARA KEMBARNYA SETAN."

RASULULLAH BISA MENGHILANG

Rasulullah SAW senantiasa dilindungi oleh Allah SWT melalui banyak mukjizat dan salah satunya Beliau bisa menghilang lenyap dari pandangan.

BERIKUT KISAHNYA...
Memasuki tahun ke sembilan hijriyah, keagungan agama Islam telah terdengar ke seluruh pelosok negeri. Rentetan kemenangan dalam setiap peperangan membuat kaum muslimin begitu disegani saat itu.
Oleh karena itu, tahun ke 9 Hijriyah itu sering disebut sebagai "Tahun Utusan" atau"Amul Wufud".

Keadaan yang berada di puncak telah membuat para pemimpin negara tetangga ramai mengirimkan utusannya untuk mendengarkan ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Namun demikian diantara mereka ada yang berniat jahat dengan bermaksud membunuh Rasulullah SAW.
Salah satunya adalah Amir bin Thufail yang bersekongkol bersama temannya yang bernama Ibad bin Qays.

SIASAT BURUK AMIR dan IBAD.
Amir bin Thufail ini merupakan utusan dari Bani Amir yang telah lama tidak suka dengan ajaran Rasulullah SAW. Rencana busuk tersebut dilaksanakan keduanya dalam sebuah majelis yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Kala itu Nabi Muhammad SAW tengah membicarakan ajaran Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

Pada saat yang telah ditentukan, Amir memberi sebuah kode kepada Ibad untuk merampungkan misinya. Ibad pun mulai bergerak memutar menuju ke bagian belakang Rasulullah SAW.

Ketika berada tepat di belakang Rasulullah SAW, Ibad mengeluarkan pedang tajam dari sarung pedangnya dan siap membacokkan ke tubuh Rasulullah SAW. Namun seketika itu juga Ibad hanya diam tercengang.
Ia nampak bingung dengan pandangan mata yang penuh ketidakpercayaan.

Beberapa detik sebelumnya, ia melihat tubuh Rasulullah SAW, namun di detik-detik berikutnya tubuh Rasulullah SAW itu pun menghilang. Di sudut lain, Amir juga bingung dengan sikap Ibad yang tak kunjung menghunuskan pedangnya.
Maka gagallah rencana busuk itu. Ketika mereka berada di luar majelis, Amir memarahi Ibad.

"Hai Ibad, mengapa engkau tidak membunuhnya hai penakut," kata Amir berang.
"Hai Amir, bukannya aku takut seperti apa yang kau tuduhkan, bukankah selama ini engkau mengakui keberanianku?" kata Ibad yang tak mau disebut penakut.

"Lalu mengapa engkau tak jadi membunuh Muhammad," ucap Amir dengan kesal.
"Hai Amir, sesungguhnya aku telah mengalami keajaiban yang jelas, setiap kali aku akan mengayunkan pedangku, tidak terlihat orang lain kecuali kamu di depanku, aku tidak melihat Muhammad," jelas Ibad.

RASULULLAH BISA MENGHILANG.
Amir semakin marah dengan alasan Ibad yang tidak masuk akal itu, karena dari sudut lain tadi, Amir dapat melihat dengan jelas bahwa Rasulullah SAW masih berada di tempatnya dan tidak beranjak sedikitpun.
"Hai Ibad, Muhammad itu tepat berada di depanmu," sergah Amir dengan kesal.
"Benar, Muhammad di depanku, namun setiap hendak kuayunkan pedangku, yang terlihat hanya kamu," tanda Ibad.


"Engkau telah dibutakan oleh Muhammad, padahal ia berada di depanmu," kata Amir lagi.
"Hai Amir, ketahuilah bahwa daripada pedangku akan mengenai tubuhmu, maka aku urungkan niatku untuk membunuh Muhammad," jawab Ibad yang terlihat syok dengan pengalaman itu.

Begitulah cara Allah SWT dalam menjaga utusan-Nya, Rasulullah SAW.

DIALOG RASULULLAH DENGAN GUNUNG

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu dekat dengan umatnya, terbukti dengan seringnya Beliau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu desa ke desa lainnya agar lebih mengenal umatnya.
Dalam perjalanan yang dilakukan kali ini, Rasulullah SAW mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Uqa'il bin Abi Thalib untuk menemani.

Di perjalanan, ada seorang nenek yang tergeletak lemah di jalanan, wajahnya yang tua renta semakin terlihat menyedihkan akibat pucat dan lemas kondisi tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan engkau Wahai Ibu?" tanya Rasulullah SAW.

Nenek yang kondisinya lemah itu pun menjawab,
"Ak...akkkuuuu laaa...paar.."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah yang pada saat itu membawa bekal secukupnya, langsung memberikan bekalnya, hingga habislah bekal Rasulullah SAW kala itu.


Meskipun tanpa bekal sedikit pun, Rasulullah SAW dan Uqa'il tetap melanjutkan perjalanan. Setelah perjalanan panjang ditempuh dengan melewati gurun yang panas dan kering, kondisi Rasulullah SAW dan Uqa'il menjadi melemah karena banyak sekali tenaga yang terkuras untuk melewati hamparan pasir dan panasnya yang membuat dahaga semakin hebat.

KEHAUSAN.
Sesampainya di daerah pegunungan, Rasulullah SAW merasa sangat haus dikarenakan jauhnya perjalanan melewati gurun. Lalu Beliau menyuruh Uqa'il untuk mencari minuman dan buah untuk mengisi perut.
Uqa'il pun menuruti perintah Nabi, ditelusurinya gunung untuk mencari sumber air dan pepohonan untuk diambil buahnya, namun Uqa'il tidak mendapati sumber air dan hanya buah-buahan saja yang ia dapat.

"Ya Rasul, aku tidak mendapati air di gunung ini, padahal aku sudah mengelilinginya, namun belum aku temukan juga," ujar Uqa'il.

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasululullah SAW bersabda,
"Hai Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan 'Jika padamu ada air, berilah aku minum'," tutur Rasulullah.

Mendengar jawaban Rasulullah yang tidak masuk akal itu, membuat Uqa'il kebingungan dan tidak mengerti.
namun Uqa'il tetap pergi melaksanakan perintah sembari bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah Rasul bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apa yang harus aku lakukan, menyampaikan salamnya ataukah hanya diam dan balik ke Beliau lagi," ujar Uqa'il dalam hati.

Walaupun pikirannya penuh dengan keheranan, Uqa'il tetap mendaki gunung. Di tengah pendakian, Uqail mendengar suara asing, dan berkata,
"Uqa'il, pergilah mendaki gunung, patuhilah perintah Beliau," perintah suara yang asing itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril.
Uqa'il akhirnya sampai pada puncak gunung lalu menyampaikan salam Rasulullah SAW kepada gunung perihal air yang dibutuhkan dia dan Rasulullah.
Setelah menyampaikan salam, Uqa'il pun kembali menuju tempat Rasulullah SAW.

RASUL MEMERINTAH GUNUNG.
Sesampainya di dekat Rasulullah SAW, betapa kagetnya Uqa'il ketuka melihat Rasulullah berbicara dengan gunung.
"Wahai tauladanku Muhammad, maafkan aku dikarenakan menghambat perjalanan engkau dengan tidak menyediakan air ketika engkau datang.
Aku takut engkau tidak memaafkanku, jika itu terjadi pasti aku merasakan panasnya api neraka," ungkap gunung itu.

Mendengar suara yang berasal dari gunung, membuat Uqa'il semakin bingung dan sekaligus takjub kepada Rasulullah, dikarenakan salah satu ciptaan Allah yang tidak bernyawa itu dapat berbicara dengan Beliau.
"Aku akan memaafkan kamu, tapi bolehkah aku minta sedikit air untuk membasahi tenggorokanku," tutur Rasulullah.

"Dakilah gunung ini hingga sampai puncaknya, setelah sampai, berjalanlah berbelok menuju tempat yang dipenuhi dengan bebatuan besar yang melingkar, di tengahnya terdapat sumber air dan buah-buahan untuk bekal engkau, Wahai Rasulullah," jelas gunung itu kepada Rasul.

Uqa'il berserta Rasulullah SAW akhirnya mendaki gunung itu kembali dan Beliau berjalan sesuai dengan perintah gunung. Sesampainya di tempat yang dijelaskan gunung tersebut,Uqa'il sangat terkejut karena ketika mengelilingi gunung itu tadi, Uqa'il tidak mendapati tempat seindah itu yang terdapat sumber air sangat jernih dan banyaknya pohon yang berbuah segar dan nikmat.

DIALOG RAJA DAN MALAIKAT MAUT

Sahabat Yazid Arruqasyu meriwayatkan, pada masa Bani Israil ada seorang penguasa zalim.
Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan tidak pernah berbuat kebajikan. Pada suatu hari raja tersebut duduk di singgasananya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu istana.

Orang asing itu bertampang keji, berbadan besar dan menakutkan.
Raja sangat ketakutan dengan kehadirannya, dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan bergetar,
"Siapakah engkau ini? Siapa yang telah menyuruhmu masuk ke istanaku?" tanya raja ketakutan.

"Pemilik rumah ini yang menyuruhku ke sini. Ketahuilah bahwa tak ada dinding yang dapat menghalangiku, dan aku tidak memerlukan izin untuk masuk ke manapun," kata laki-laki asing itu dengan suara agak kasar.

"Apakah engkau tidak takut dengan para sultan di kerajaanku ini?" tanya raja dengan gemetar.
"Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun yang dapat lari dari jangkauanku," kata laki-laki itu dengan bengisnya.

MALAIKAT MAUT DATANG
Setelah mendengar perkataan orang itu, wajah raja menjadi pusat pasi dan badannya menggigil, ia amat ketakutan dengan situasi ini.
"Apakah engkau Malaikat Maut?" tanya raja menebak.
"Benar, akulah Malaikat Maut yang diutus untuk mencabut nyawamu," kata malaikat maut tanpa tersenyum sedikitpun.
"Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan menginfakkan harta benda yang aku miliki, hingga tak terbebani oleh azab akibat harta itu di akhirat kelak," pinta raja.

"Bagaimana aku dapat menangguhkan, padahal umurmu sudah habis dan waktu sudah ditetapkan tertulis," kata Malaikat Maut.
"Aku mohon tangguhkanlah sesaat saja," rayu raja sekali lagi.

"Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan, tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu," ujar Malaikat Mautyang mendekat seolah henadak mencabut nyawa raja.

MATI BELUM BERTOBAT
Raja semakin ketakutan dengan kata-kata Malaikat Maut itu. Namun ia tetap bersikeras ingin meminta penangguhan kematian.
"Jika aku mati sekarang, siapa yang akan menyertaiku di alam kubur?" tanya raja zalim itu.
"Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu," jawab Malaikat Maut.
"Aku tidak mempunyai amal kebaikan. Selama ini aku lalai kepada Allah SWT," jelas raja zalim itu.

"Jika demikian, neraka dan murka Allah adalah tempat yang layak untukmu," tegas Malaikat Maut.
Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, sehingga raja itu terjatuh dari singgasananya. Dan sang raja akhirnya mati sebelum bertobat.

Datangnya maut tidak dapat ditunda sedetik pun, apapun jabatan seseorang. Permintaan penangguhan ditolak mentah-mentah oleh Malaikat Maut yang langsung mencabut nyawanya.

Thursday, October 10, 2013

MIMPI NERAKA

Kisah Islam kali ini mencoba menceritakan tentang mimpi neraka yang dialami oleh sahabat Rasulullah SAW.
Setelah mimpi masuk neraka dan ditolong oleh Nabi Muhammad SAW, Khalid bin Sa'id langsung bersyahadat, langsung bertobat dan mengimani agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Khalid bin Sa'id bin Ash adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang dilahirkan dari keluarga yang kaya raya. Keluarganya tergolong kepala suku Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Memang sebenarnya dalam hati nuraninya, ia mengaku bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar dan yang diterima Rasulullah SAW di Gua Hira' itu telah membuat hatinya tertarik.

"Sebetulnya aku sangat tertarik dengan agama yang dibawa Muhammad, tapi aku belum berani dan belum memungkinkan ikut agama beliau," katanya dalam hati.

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu,melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi sebenarnya pada batin dan dalam lubk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan.
Di dalam hantinya menggelegar bunyi gendang yang ditabuh,nyanyi-nyanyian yang memanjatkan doa serta lagu-lagu pujian yang mengagungkan Tuhan.

API NERAKA
Pemuda ini menyimpan kegembiraan di dalam dadanya tapi ditutupinya rapat-rapat, karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa batinnya sedang bersuka cita dengan dakwah Rasulullah SAW, maka dia akan dibunuh dan tubuhnya akan dipersembahkan sebagi korban untuk Tuhan-Tuhan mereka.

Tetapi jiwa dan kesadaran batin seseorang, bila ia telah penuh sesak dengan segala suatu masalah dan meluap sampai ke permukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi.
Pada suatu hari, Khalid bin Sa'id bermimpi,ia berdiri di bibir nyala api yang besar (neraka), sedang ayahnya dari belakang hendak mendorongnya dengan kedua tangannya ke arah api itu, malah ia bermaksud hendak melemparkan ke dalam nyala api itu.

Kemudian dilihatnya Rasulullah SAW datang ke arahnya, lalu menariknya ke belakang dengan tangan kanannya yang penuh berkah, hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api.
Ia tersadar dari mimpinya,
"Alhamdulillah, aku masih hidup. Berarti aku tadi barusan bermimpi," katanya dalam hati.

BERIMAN
Kemudian Khalid segera pergi ke rumah Abu Bakar, lalu menceritakan mimpinya itu. mimpi itu sepertinya tidak memerlukan tabir lagi.
"Sesungguhnya yang kuinginkan untukmu, selain dari kebaikan. Nah, dialah utusan Allah. Ikutilah dia karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka," kata Abu Bakar.
"Terima kasih atas sarannya. Sekarang juga aku akan mencari Muhammad,"tutur Khalid.

Khalid pun akhirnya pergi mencari Rasulullah SAW, dan di suatu tempat, dia bertemu dengan beliau. Lalu ia menumpahkan isi hatinya dan menanyakan tentang dakwahnya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Hendaknya engkau beriman kepada Allah Yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukannya dengan sesuatu pun. Dan engkau beriman kepada Muhammad sebagai hama-Nya dan Rasul-Nya.
Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat."

Khalid lalu mengulurkan tangan kanannya disambut oleh tangan kanan Rasulullah SAW dengan penuh kemesraan dan Khalid pun mengucapkan,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW itu utusan Allah."

ROH MUKMIN DISAMBUT MALAIKAT

Rasulullah SAW menuturkan bagaimana seseorang menuju pada akhir hayatnya dimana malaikat mulai mencabut nyawa seseorang hingga mendampingi orang itu menuju alam barzah.

Rasulullah Muhammad SAW bersama Abul Laits sutu ketika pergi untuk mengantarkan jenazah seorang sahabat Ansar, namun secara tiba-tiba sesampainya di pemakaman, beliau menundukkan kepala.
"Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksaan kubur," sabdanya 3 kali.

Apa yang dilakukan Rasulullah tersebut membuat Abul Laits penasaran, apa yang dimaksud dari ucapan serta perilaku Beliau. Hingga selesainya acara pemakaman, Abu Laits mengantarkan Beliau pulang, dan sesampainya di rumah Rasulullah, Abul Laits yang diselimuti rasa penasaran, bertanya,
"Wahai Rasulullah, apa maksud dari apa yang engkau ucapkan tadi?" tanya Abul Laits.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang mukmin yang akan meninggal dunia, akan turun malaikat berbaju putih-putih dengan wajah terang seterang matahari. Lalu datanglah malaikat maut duduk di dekat kepalanya seraya berkata,
"Wahai roh yang baik, keluarlah menuju pengampunan Allah dan ridhanya."
Rasulullah terdiam sejenak. Dan terdiamnya Rasulullah membuat Abul Laits tidak sabar dengan apa yang diceritakan oleh Beliau.
"Mudahkah roh itu keluar dari rganya, wahai Rasul?" tanya Abul Laits lagi.


Kembali Rasulullah SAW bercerita bahwa keluarnya sang roh mengalir bagaikan tetesan air dari mulut kendi (tempat air), langsung diterima oleh malaikat pembawa kain kafan dan dimasukkan dalam kafan. Saat dibawa, keluar semerbak harum bagaikan kasturi, minyak paling harum di bumi.

Kemudian rohnya di bawa menuju langit dan di setiap pintu langit sang roh disambut malaikat Muqarrabun hingga langit ke tujuh.
Allah SWT berfirman,
"Catatlah suratnya di Illiyin, kemudian kembalikan ia ke bumi."

Lalu Rasulullah menjelaskan, duduknya beliau ketika sampai di dekat liang lahat dikarenakan adanya malaikat yang mengantarkan roh Ansar kembali ke jiwanya.
Rasulullah menuturkan bahwa sekembalinya roh ke dalam kubur, dua malaikat akan mendatangi dan menanyai roh itu.

Bau Surga.
"Apa yang akan ditanya oleh sang malaikat, ya Rasul?" tanya Abul Laits penasaran.
"Malaikat itu bertanya siapa Tuhanmu? Roh itu menjawab Allah Tuhanku. Lalu ditanya lagi apa agamamu? Dengan lantang roh menjawab Islam. Ditanya lagi, bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan di tengah-tengah kamu? Dijawab, dia utusan Allah.

Sang malaikat bertanya lagi, Bagaimana kamu mengetahui itu? Dengan senyum penuh keindahan, roh menjawab, saya membaca kitab Allah dan mempercayainya serta membenarkannya," tutur Rasulullah dengan suaranya yang lembut.


Dan Rasulullah kembali menceritakan, setelah ditanya sang malaikat, maka akan terdengar suara ajaib.
"Benar hambaku, maka berikan padanya hamparan dari surga, pakaian surga dan bukakan padanya pintu menuju surga, sehingga ia mendapat bau surga dan hawa surga.
Lalu luaskan kuburnya sepanjang pandangan mata," jelas Rasulullah.

Setelah mendengar suara itu, lalu datanglah seseorang berwajah bagus dengan bau harum yang tak lain adalah amal baik roh itu.

INSAFNYA PERAMPOK

Kisah ini terjadi pada pimpinan perampok, sebut saja namanya Qais bin Malik saat hendak mengambil paksa barang-barang milik Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani. Ia mengurungkan niatnya sekaligus tobat setelah terpesona dengan kejujuran calon korbannya.

Qais bin Malik dikenal sebagai pimpinan perampok yang kejam dan tak kenal kompromi. Ia merajai hampir seluruh wilayah yang menuju ke Baghdad, pusat peradaban Islam waktu itu.
Sudah banyak musyafir dan para kafilah yang dirampas hartanya tanpa bisa melawan sedikitpun karena Qais juga memiliki anak buah yang banyak.

Namun pada suatu hari Qais mengalami kejanggalan dalam menjalankan aksi jahatnya. Saat itu ia hendak merampok semua barang bawaan para kafilah yang di dalamnya terdapat Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani berusia kala itu masih 18 tahun, ia berniat menimba ilmu agama di negeri Baghdad. Dalam perjalanan, para khalifah itu diserang oleh 60 orang perampok.
Seluruh harta kafilah tersebut dirampasnya tetapi anehnya tak ada satu perampok pun yang mengusik Abdul Qadir.
Nampaknya mereka tertipu dengan pakaian lusuh yang dikenakan ulama sufi itu dan mengira Syeikh Abdul Qadir tak punya harta berharga.

Perampok Tobat.
Namun demikian, akhirnya ada seorang perampok yang menghampiri Syeikh Abdul Qadir.
"Berilah kepada kami apa saja yang kamu bawa," kata Qais sambil memegang pedangnya.
"Aku hanya memiliki 40 dirham yang tersimpan di dalam pakaianku," katanya jujur.

Mendapat penjelasan pasrah, seolah tanpa perlawanan itu, Qais justru menjadi heran. Selama bertahun-tahun merampok, ia tak menemukan orang sejujur yang ia temui itu.
Biasanya calon korbannya akan mengaku tidak punya barang berharga atau berusaha kabur.

Untuk membuktikan perkataan calon korbannya itu, Qais pun menyuruh anak buahnya untuk memotong baju yang dikenakan Syeikh Abdul Qadir dan ditemukanlah 40 dirham itu.
"Wahai pemuda, mengapa engkau begitu mudahnya menyebut barang berhargamu, padahal engkau tahu jika kami hendak merampasnya," tanya perampok itu.
"Aku telah berjanji kepada ibuku akan meninggalkan ucapan bohong dan selalu berkata jujur, kapanpun dan dimanapun," jawab Syeikh Abdul Qadir.

Begitu mendengar penjelasan itu, kepala perampok itu langsung menangis dan menginsyafi kesalahannya. Ia bersujud dan bersimpuh di hadapan Syeikh Abdul Qadir AL-Jaelani.
Ketua penyamun bersumpah tidak akan merampok lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Qadir dan diikuti oleh semua pengikutnya.

Pesan Ibu.
Sebelum berangkat merantau, Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani memnag meminta izin kepada ibunya. Niat yang mulia itu pun direstui oleh ibunya. Ibunya tak bisa menghalang-halangi cita-cita murni anaknya meskipun sebenarnya ia berat melepas anaknya berjalan sendirian melewati bebatuan yang tajam dan terik matahariyang panas.

"Ibu tidak akan menahan keinginanmu, tetapi sebelum berangkat, berjanjilah sesuatu kepada ibu," kata Ibunda Syekh Abdul Qadir.
"Apakah itu wahai ibu," tanya Syeikh Abdul Qadir.
"Janganlah kamu berkata bohong sedikitpun, pegang penuh kejujuran," kata ibu.

Berkat kejujuran Syeikh Abdul Qadir itu, Qais pun bertaubat dan ia mendalami ilmu agama Islam dengan berguru kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.

AHLI TAHAJUD DIGODA ULAR

Seribu satu cara setan menggoda umat Islam, baik dengan menampakkan dirinya maupun dengan sesuatu yang menyilaukan mata manusia. Hal ini dilakukan setan saat menggoda ahli shalat tahajud agar menghentikan kebiasaannya.


Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Amir bin Abdi Qais senantiasa shalat tahajuddi malam hari dan berpuasa pada siang harinya.
Melihat ahli ibadah itu begitu khusyuk shalat tahajud, Iblis berinisiatif mengganggunya. Ia tidak rela jika Amir istiqamah dalam menjalankan shalat tahajud itu.

Maka pada suatu malam ketika Amir tengah melakukan tahajud, Iblis datang mengganggu dengan menjelma menjadi seekor ular, dan ular itu berada di tempat sujud Amir.

Alqamah bin Mursyid berkata bahwa ia melihat ular masuk lewat gamis bagian bawahAmir ketika Amir shalat tahajud lalu keluar melalui lengan bajunya. Namun Alqamah merasa heran karena seolah Amir merasa tak terganggu sedikitpun atas keberadaan ular itu.

Ular Jelmaan.
Keesokan harinya, Alqamah bertanya kepada Amir perihal ular yang dilihatnya semalam.
"Mengapa tidak engkau singkirkan ular itu?" tanyanya.
"Demi Allah, aku benar-benar malu di hadapan Allah SWT dan demi Allah aku tidak melihat ular itu ketika ia masuk maupun keluar," jawab Amir.

Lalu seseorang mengomentari kekhusyukannya dalam shalat tahajud, dan ia berkata bahwa dengan kekhusyukan itu maka Amir dapat menggapai surga dengan mudah. Namun Amir tidak mau menerima pujian itu.

Seseorang yang lain berkata bahwa suatu saat Amir sakit dan menagis.
"Apa yang membuat kamu menangis, padahal kamu sudah seperti itu (ahli ibadah)?"kata orang tersebut.
"Siapakah yang lebih berhak menangis selain aku? Padahal aku tahu perjalananku sangat jauh sementara bekal yang aku bawa sangat sedikit? Aku berada dalam perjalanan penuh pendakian dan jalan menurun, apakah perjalananku ini menuju surga atau neraka, sama sekali aku tidak tahu kemanakah tempat kembaliku kelak,"jawabnya.

Kisah Iblis yang menjelma menjadi seekor ular ini terdapat dalam kitab Al-Hilyah.

Sunday, October 6, 2013

MATAHARI TUNDUK PADA RASUL

Bukan hanya mukjizat bulan saja yang mampu dibelah oleh Rasulullah SAW, matahari pun juga tunduk atas perintahnya sebagai bagian dari mukjizat Rasulullah SAW. Mukjizat itu ditunjukkannya di hadapan Raja Habib yang membuatnya terpukau dan masuk islam.

Berikut Kisahnya.

Pada zaman jahiliyah terdapat seorang raja bernama Raja Habib Ibnu Malik di kota Syam. Orang arab memberinya gelara "Raihanah Quraisyin."
Raja Habib saat itu masih menyembah patung dan memiliki putri yang cacat di bagian kaki, tangan dan matanya pun buta.

Pada suatu hari Raja Habib bersama pasukannya berjumlah 12 ribu orang singgah di Athbah, yakni suatu tempat di dekat Makkah. Maka datanglah Abu Jahal beserta pengikutnya untuk memberikan berbagai hadiah kepada Raja Habib. Setelah itu Abu Jahal dipersilahkan duduk di sebelah kanan Raja Habib.


"Wahai Abu Jahal, katakan kepadaku tentang Muhammad," kata Raja Habib yang sudah lama mendengar nama Muhammad.
"Sebenarnya kami telah mengenal Muhammad itu sejak dia kecil, orangnya sungguh amanah dan setiap perkataannya benar. Namun sejak umur Muhammad meningkat 40 tahun, dia telah berani mencela Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang datangnya bukan dari nenek moyang kita," jelas Abu Jahal.

Tantangan Raja.
Raja Habib kemudian ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Maka datanglah Rasulullah beserta Abu Bakar dan Siti Khadijah. Wajah Rasulullah SAW saat itu terlihat memancarkan cahaya yang suci.
"Wahai Muhammad, kamu pun tahu bahwa setiap Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?" tanya Raja Habib.

"Katakan saja apa yang kamu kehendaki?" tutur Rasulullah SAW.
"Aku ingin matahari itu terbenam dan bulan pula hendak turun ke bumi dan kemudian terbelah menjadi dua, setengah bagian bulan itu kemudian masuk di bajumu dan sebagian keluar melalui lengan bajumu yang kanan.
Setelah itu bulan hendaklah berkumpul menjadi satu di atas kepalamu dan bersaksi atasmu, kemudian bulan itu kembali ke langit. Sesudah itu hendaklah matahari yang tenggelam muncul kembali," pintanya.

"Apakah kamu mau beriman kepadakusetelah aku melakukan segala apa yang kamu kehendaki?" tanya Rasulullah.
"Ya, aku akan beriman kepadamu setelah kamu dapat membuktikan segala isi hatiku,"janjinya.

Rasulullah SAW pun keluar lalu pergi mendaki gunung ABi Quais, kemudian Baginda mengerjakan shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT. Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril bersama 12 ribu malaikat yang memegang panah di tangan mereka.

"Wahai kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku senantiasa bersamamu, ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya Raja Habib itu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan tidak mempunyai kedua mata. Katakan kepadanya bahwa Allah SWT telah mengembalikan kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya," ujar Malaikat Jibril.

Menyuruh Matahari.
Setelah itu Rasulullah turun dari gunung ABi QUbais dengan rasa tenag, dengan disaksikan Raja Habib, matahari mulai berlari, cepat tenggelam dan hari pun menjadi gelap gulita. Setelah bulan meninggi, Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan dua jarinya-jarinya untuk membelah bulan itu. Semua permintaan Raja Habib akhirnya dapat dipenuhi oleh Rasulullah SAW.

"Wahai Muhammad, aku masih ada satu syarat lagi," kata Raja Habib.
Belum sempat Raja Habib berkata makan Rasulullah SAW langsung menyahutinya bahwa Raja Habib ini mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai dua tangan, dua kaki dan dua mata.


"Maka ketahuilah olehmu,sesungguhnya Allah SWT telah mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua mata putrimu," sabda Rasul.

Mendengar penuturan itu, Raja Habib langsung menyatakan keislamannya, lantas diikuti oelh seluruh pasukannya.
Setelah Raja Habib pulang ke kerajaannya, ia berdecak kagum karena mendapati puterinya dalam kondisi sempurna. Putrinya yang semula cacat maka saat itu juga bisa sembuh total.

ONTA BERLARI SECEPAT KILAT

Setelah didoakan oleh Rasulullah SAW, seekor onta tiba-tiba bisa berlari secepat kilat. Aneh, padahal umumnya hanya bisa berjalan lambat saja. Namun demikianlah salah satu mukjizat yang dianugrahkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW.

KISAHNYA
Pada zaman Rasulullah SAW, onta biasanya digunakan untuk kendaraan, termasuk sebagai kendaraan perang. Tenaganya yang kuat berjalan di tengah gurun pasir menjadi nilai positif hewan tersebut. Akan tetapi meskipun demikian, hewan tersebut tak bisa berlari kencang seperti kuda.

Namun pengecualian onta yang dimiliki oleh Jabril bin Abdullah ini. Setelah didoakan Rasulullah, onta tersebut berlari secepat kilat (istilah lari kencang). Kejadian itu bermula kala Jabril turut berperang dalam membela islam.

Jabril bercerita, dirinya pernah keluar bersama Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Onta yang ditunggangi berjalan lamabt sehingga membuatnya letih sebelum berperang. Lalu Rasulullah SAW menghampirinya,
"Bagaimana keadaan Anda?" tanya Rasulullah.
"Onta yang kutunggangi ini berjalan sangat lambat, hingga membuatku mengalami keletihan dan tertinggal," jawab Jabril.

ONTA JABRIL BERLARI CEPAT
Mendengar penuturan itu, Rasulullah SAW lantas memukul onta tersebut, kemudian berdoa dengan khusyuk. Tak lama kemudian Beliau mempersilahkan Jabril untuk memacu ontanya.
"Sekarang tunggangilah," perintah Rasulullah SAW.


Jabril pun menunggangi onta tersebut dan memacunya.
Ajaib, tidak berapa lama kemudian Jabril mendapati dirinya melesat jauh meninggalkan Rasulullah SAW. Itu diketahuinya ketika ia menoleh ke belakang melihat Nabi Muhammad SAW.

"Subhanallah..aku baru saja melihat mukjizat yang dimiliki Rasul kekasih Allah,"kata Jabril dalam hati.