Saturday, August 24, 2013

Bujukan Abu Thalib kepada Rasulullah saw

Rasulullah Muhammad saw, berasal dari keluarga yang terhormat dan disegani di kota Mekah. Beliau adalah kemenakan kesayangan Abu Thalib yang sangat terpandang di kalangan kaum musyrikin Quraisy. Abu Thalib senantiasa melindungi beliau dari serangan kaum musyrikin Quraisy. Oleh karena itu, kaum Quraisy tidak bisa sembarangan melawan Rasulullah saw. Bagaimanapun juga mereka masih menghargai kedudukan pamannya.

Kaum musyrikin Quraisy berharap agar Abu Thalib berpihak kepada mereka dan membantu mereka mencegah dakwah Muhammad saw. Mereka berkata kepadanya, “Abu Thalib, anak saudaramu itu telah berani mencaci tuhan-tuhan kita dan menganggap sesat nenek miyang kita. Engkau harus mencegah dia agar tidak berdakwah lagi kepada kita atau engkau tetap membiarkan kami dan Muhammad dalam perselisihan. Ketahuilah, sesungguhnya engkau terhadap dia sama dengan kami terhadap dia! Maka, kami percaya bahwa kau dapat menyelesaikan urusan ini!”

Abu Thalib menolak permintaan para pembesar Quraisy tersebut dengan halus. Abu Thalib tahu benar bahwa kemenakannya memang seorang Rasul yang diutus oleh Allah swt. Ia sering melihat tanda-tanda kenabian yang ada pada diri Nabi Muhammad.

Bujukan Abu Thalib kepada Rasulullah saw

Para pembesar Quraisy berkata kepada Abu Thalib, “Abu Thalib, engkau adalah sesepuh kami, terhormat dan memiliki kedudukan di hadapan kami. Kami pernah memintamu untuk menghentikan sepak terjang anak saudaramu itu, tetapi engkau ternyata menolak”

Mereka melanjutkan dengan nada ancaman yang keras, “Kami bersumpah tidak akan tinggal diam jika Muhammad terus melanjutkan dakwahnya. Akan kami perangi kalian berdua sampai titik darah penghabisan!”

Kali ini Abu Thalib benar-benar dibuat ciut oleh ancaman tersebut. Dia tidak ingin menyerahkan Muhammad ke tangan mereka. Ia khawatir akan timbul perpecahan dan pertumpahan darah di antara sanak kerabatnya sendiri.

Akhirnya, Abu Thalib menceritakan ancaman kaum Quraisy tersebut kepada Rasulullah Muhammad saw. Abu Thalib berharap Muhammad mampu menjaga diri. Ia memohon kepada Muhammad saw agar tidak membebaninya dengan tindakan-tindakan yang berakibat sesuatu yang tidak sanggup ia tanggung.

Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, “Kemenakanku, sesungguhnya anak-anak keturunan pamanmu merasa engkau telah menyakiti mereka sebab engkau menghina cara beribadah mereka dan tempat-tempat ibadah mereka. Jadi, kumohon berhentilah menyakiti mereka!”

Ucapan Abu Thalib menyesakkan dada Rasulullah saw. Beliau merasa bahwa pamannya sudah tidak bersedia lagi memberikan perlindungan kepadanya. Rasulullah kemudian berkata kepadanya, “Demi Allah, Paman, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud supaya aku meninggalkan tugasku berdakwah menyiarkan agama Allah sampai tersiar di muka bumi, akan tetapi aku tetap tidak akan meninggalkannya meskipun aku akan binasa karenanya!”

Rasulullah saw meninggalkan pamannya dengan berurai air mata. Abu Thalib menyadari kesalahannya. Bagaimana mungkin ia menyuruh utusan Allah untuk berhenti menunaikan tugas hanya karena permintaan segelintir orang? Keteguhan hati Muhammad untuk terus menyiarkan islam membuat hati Abu Thalib luluh, apalagi Muhammad ialah kemenakan yang paling ia sayangi. Hal inilah yang membuatnya ingin selalu melindungi Muhammad. Ia segera memanggil Muhammad yang telah jauh meninggalkannya.

Rasulullah saw memenuhi panggilan pamannya. Sang paman berkata kepada beliau, “Putra saudaraku, lanjutkanlah perjuanganmu dan katakanlah apa pun yang ingin kau katakan. Demi Allah aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka apapun alasannya!”

Abu Thalib menemui para pemuka Quraisy dan berkata, “Demi Allah, putra saudaraku ini tidak pernah mendustai kita! Pulanglah kalian!”

Abu Thalib kembali menunjukkan pembelaannya kepada kemenakannya. Tekad kuat yang telah membaja untuk mendakwahkan Al-Islam tidak mampu tergoyahkan oleh apa pun. Inilah yang disadari oleh Abu Thalib. Tidak ada yang mampu mencegah ataupun menghalangi Rasulullah dalam menyiarkan kebenaran.

No comments:

Post a Comment

Daftar Isi