Saturday, August 24, 2013

Dakwah Rasulullah secara Sembunyi-Sembunyi

Rasulullah saw menjadikan kota Makkah sebagai tolak ukur untuk memulai aktifitasnya. Pada awalnya, Rasulullah saw melakukan metode dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi), berlangsung selama tiga tahun pertama beliau memulai dakwahnya. Hal tersebut mengingat keadaan Rasulullah saw yang masih lemah dan belum memiliki pengikut, meskipun ia berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang yang disegani dan dihormati.

Lapisan yang paling pertama beliau seru tentu saja keluarga dan kenalan dekat beliau. Itu pun hanya mereka yang memperlihatkan tanda-tanda kebaikan yang ada pada dirinya.

Usaha beliau tidak sia-sia. Pada hari-hari pertama beliau berdakwah telah terkumpul sejumlah orang yang menerima dakwah dengan penuh keyakinan dan penghormatan terhadap Rasulullah saw. Merekalah yang terkenal sebagai as-Saabiquunal Awwalun (Generasi Pertama yang Menerima Islam)

Orang terdepan dari kelompok ini ialah istri Rasulullah saw sendiri; Ummul Mu`minun; Khadijah binti Khuwailid, kemudian budaknya: Zaid bin Haritsah, lalu sepupunya; Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih belia dan diasuh oleh Nabi Muhammad saw. Kemudia sahabat dekat beliau, Abu Bakar as-Shiddiq.

Abu Bakar as-Shiddiq R.A setelah masuk islam turut serta berdakwah. Berkat usaha dan posisinya sebagai orang terhormat dalam kaum Quraisy, dakwahnya cepat memberikan hasil baik.

Tak berapa lama kemudian, tercatatlah sejumlah orang yang masuk islam berkat dakwah beliau, di antaranya: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa`ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah. Mereka juga termasuk generasi pertama dan kalangan yang banyak berperan dalam dakwah Rasulullah saw.

Kemudian satu persatu masyarakat Quraisy masuk islam, seperti Bilal bin Rabah, Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, Abu Salamah bin Abd al-Asad, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Madz`un, Fatimah binti Khatthab, Khabbab bin` Art, Abudullah bin Mas’ud dan lainnya.

Mereka semua masuk islam secara sembunyi-sembunyi, karena Rasulullah saw menyampaikan dakwahnya secara individu dan rahasia.

Sementara itu wahyu terus diturunkan, umumnya pendek-pendek, namun memiliki tekanan kuat untuk membersihkan hati dari berbagai kotoran duniawi, sangat sesuai dengan kondisi saat itu yang membutuhkan kelembutan hati dan jiwa. Wahyu yang turun saat itu banyak menggambarkan tentang keadaan syurga dan neraka. Sehingga muncul kerinduan terhadap syurga dan ketakutan terhadap neraka.

Lama kelamaan muncullah keteguhan hati yang kuat di antara mereka yang melahirkan Ukhuwwah dan tolong menolong. Ibadah saat itu yang sudah mereka lakukan ialah shalat. Namun, karena pada waktu itu belum ada perintah shalat lima waktu, mereka hanya shalat dua rakaat setiap pagi dan petang. Hal ini sesuai dengan perintah Allah swt yang tertuang dalam al-Qur an surat al-Mu`minun: 55.

No comments:

Post a Comment

Daftar Isi