Sunday, August 25, 2013

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan khalifah pertama selepas Rasulullah saw yang wafat pada tahun 11 Hijriyah. Beliau memerintah selama 2 tahun 3,5 bulan. Namanya sebelum masuk islam ialah Abdul Ka`abah kemudian Rasulullah saw mengganti namanya menjadi Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Ka`ab at-Taimi al-Quraisy.

Abu Bakar termasuk salah seorang yang dijamin masuk syurga. Dari Aisyah ra. Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,

“Ayahmu (Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq) dijamin masuk surga dengan berteman dengan Ibrahim as., Umar bin Khathab dengan Nuh as., Utsman bin Affan denganku, Ali bin Abi Thalib dengan Yahya as., Thalhah bin Ubaidillah dengan Daud as., Zubair bin Awwam dengan Ismail as., Saad bin Abi Waqqash dengan Sulaiman as., Said bin Zaid denga Musa as., Abdurahman bin Auf dengan Isa ibnu Maryam as., dan Abu Ubaidah bin Jarrah dengan Idris as.”

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakar. Suatu hari rumah Sayyidina Abu Bakar didatangi oleh tiga orang tamu, sedangkan beliau sendiri saat itu tengah diundang makan malam di rumah Baginda. Setelah jauh malam, beliau pun pulang.

Istrinya bertanya, “Apakah engkau menghindari diri dari para tamu itu?”

“Apakah engkau telah suguhi mereka makan?” Abu Bakar balik bertanya.

“Mereka enggan disuguhi makan sebelum engkau pulang” sambung istinya lagi

“Demi Allah, makanan tidak cukup,” ujar Abu Bakar. Meski begitu Abu Bkar tetap menyuguhi tamunya makanan.

Salah satu tamunya berkata, “Demi Allah, makanan ini bertambah banyak setiap kami ambil. Kami semua sudah kenyang, tapi makanan ini malah bertambah banyak dari sebelumnya”

Abu Bakar kemudian memeriksa dan mendapati makanan tersebut memang tidak habis, tetapi malah bertambah banyak. Lalu, Abu Bkar berkata kepada istrinya, “Wahai saudara bani Farras, apakah ini semua?”

Istrinya menjawab, “Tidak salah, makanan ini bertambah banyak tiga kali lipat daripada sebelumnya”

Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang terkenal akan kehati-hatiannya dalam hal makanan. Suatu hari Abu Bakar disuguhi makanan oleh hamba sahaya. Orang itu berkata, “Engkau selalu bertanya akan sumber makanan yang aku bawa, tetapi hari ini engkau tidak berbuat demikian”

“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkanlah padaku darimana engkau mendapatkan makanan ini!”

“Sebelum aku memeluk islam, aku menjadi dukun teduh. Orang-orang yang aku bantu nasibnya, kadang-kadang tidak mampu membayar utang kepadaku. Mereka berjanji membayarnya jika mereka memiliki uang. Aku berjumpa mereka hari ini. Merekalah yang memberiku makanan yang engkau makan itu”

Tiba-tiba saja Abu Bakar memekik, “Ah! Nyaris kau bunuh aku” Abu Bakar terlihat pucat ketakutan. Kemudian Abu Bakar berusaha mengeluarkan makanan yang telah ditelannya dengan paksa. Ada sahabat yang menyarankannya supaya beliau minum air sebanyak-banyaknya dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelan tadi. Beliau menurutinya sehingga makanan tadi berhasil dimuntahkan.

“Semoga Allah mencuci rahmat atasmu. Engkau telah berusaha menjaga perutmu dari makanan yang tidak baik” kata sahabat itu

“Aku pasti akan memaksanya keluar walaupun aku mungkin akan kehilangan nyawaku. Aku mendengar Nabi berkata ‘Tubuh yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka.’ Oleh karena itu, aku memaksa makanan itu keluar takut kalau ia mengantarku kepada api neraka,” tutur Sayyidina Abu Bakar.

Begitulah sosok Sayydina Abu Bkar. Kesungguhannya menaati perintah Allah dan Rasulllah membuatnya istemewa di mata Allah, Rasul, dan umat manusia.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Fakhrurazi dalam menafsirkan surah al-Kahfi yang menyebut juga tentang Abu Bakar.

Tatkala jenazah beliau diusung melewati pintu yang dekat dengan makam Rasullullah saw, orang-orang yang mengirinya memberi salam, “Sejahtera atas engkau, wahai Rasulullah! Ini dia Abu Bakar di muka pintu”

Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya, kemudian keluar suara dari dalam makam, “Masuklah kekasih kepada kekasih”

Demikianlah sekilas kisah Abu Bakar ra. Tidaklah segalanya itu terjadi tanpa adanya keimanan beliau terhadap keesaan-Nya secara total.

No comments:

Post a Comment

Daftar Isi