Friday, August 30, 2013

Kisah Penghancuran Ka'bah

Kisah kronologis penghancuran Ka`bah adalah sebuah kisah sejarah yang sangat menankjubkan dan penuh kontroversi pada masanya. Kisah penghancuran Ka`bah pun diabadikan dalam Al-Quran, tepatnya pada surat al-Fiil. Kisah penghancuran Ka`bah yang mungkin pernah Anda dengar tentang pasukan bergajah yang mencoba untuk menghancurkan Ka`bah berikut akan kami kisahkan. Kisah ini cukup panjang karena kita akan memulai dari kronologis awal penguasa pada saat itu yang membenci Ka`bah dan kaum muslimin. Selain itu juga di sini kita akan membicarakan tentang alasan mengapa pihak mereka ingin menghancurkan Ka`bah yang tentunya mengandung banyak hikmah. Berikut Kisahnya:

Abrahah al-Asyram adalah pemimpin dari Yaman yang telah menggulingkan pemimpin sebelumnya yang bernama Aryath dengan cara pemberontakan dan melalui sebuah peperangan. Akhirnya dari kemenangannya ia diangkat sebagai pemimpin baru dari kota Yaman.

Sebagai Raja yang baru, Abrahah meminta menterinya untuk menceritakan sepak terjang raja-raja sebelumnya sebagai pertimbangan dengan apa yang akan ia lakukan pada masa pemerintahannya. Abrahah adalah seorang nasrani yang amat fanatik. Ia pun bertanya kepada menterinya Syarhabil bin Iyad, tentang kepemimpinan raja pendahulunya. Menyambut perintah raja Abrahah, menteri itu pun mnceritakan keagungan raja-raja sebelumnya.

"Yaman memang pernah dipimpin oleh penguasa-penguasa agung sebelum dirimu. Setelah masa Bilqis binti Ilisyrih, Yaman dipimpin oleh Yasir bin`Amru yang bergelar "Yasir Sang Pembawa Nikmat". Ia digelari Pembawa Nikmat karena mampu memelihara ketentraman negara dan menjaga keutuhan bangsa. Setelah itu, Tiban As`ad bin Milkikirab yang dijuluki "Sang Pembuka Jalan". Ia hidup sezaman dengan Ibnu Isfandiyar, Maharaja Persia, penakluk raksasa yang wilayah jajahannya sampai ke India dan Azerbaijan. Dialah penguasa Yahudi yang memasang tirai Ka`bah.

"Tunggu sebentar, mengapa orang-orang Arab sangat memuliakan Ka`bah?" potong Abrahah.

"Ia adalah pusat pemujaan yang mereka sucikan. Bangunan yang ditegakkan nenek moyang mereka Ibrahim dan Ismail itu termaktub dalam kitab suci kita Tuan. Semua orang yang ingin menambah wibawa dan menaikkan derajatnya pasti memuliakan Ka`bah. Sebab dengan demikian, Tuhan akan menaikkan harkat dan martabatnya dalam hati manusia," terang Syarhabil.

Abrahah tertegun sejenak "Teruskan ceritamu!" seluruhnya.

"Setelah itu, Yaman secara bergantian dikuasai oleh raja-raja kecil hingga akhirnya, Anda tampil menggantikan Dzu Nuwas yang tewas bersama orang-orang Nasrani. Tuhan telah menyempurnakan keagungan dan memanjangkan usia Tuan, setelah Tuan berhasil menggulingkan Aryath."

"Tepat sekali Syarhabil, semua raja sebelumku telah mati, begitu juga dengan aku nantinya yang akan digantikan oleh penguasa yang lain. Tapi aku ingin mengabdikan namaku dengan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan orang lain. Aku adalah orang" Nasrani, dan aku mencintai agamaku, dan karenanya Aku membunuh Dzu Nawas. Aku akan membangun gereja besar yang akan membuat orang-orang Arab berpaling kepadanya... sebuah gereja yang tidak ada bandingannya."

"Benar sekali, Tuan Abrahah yang agung"

Singkat cerita akhirnya Abrahah pun memanggil seluruh arsitek-arsitek handal untuk merancang gereja yang tidak ada tandingannya. Hingga akhirnya Abrahah menulis surat kepada Najasyi bahwa ia telah selesai membangun Gereja yang belum pernah dibangun oleh raja sebelumnya. Tapi aku belum puas dengan keberadaannya hingga para Jamaah haji Arab berpaling kepadanya.

Perkataan Abrahah terdengar oleh seluruh penduduk Arab bahkan Abrahah sampai mengulangi perkataannya sebanyak dua kali. Hingga akhirnya kabar ini sampai kepada pria dari Bani Faqim. Ia bergegas menuju ke Shan`a mengunjungi gereja Abrahah. Ia menunggu beberapa saat lamanya hingga semua orang keluar, setelah sepi, ia lantas buang air besar dalam gereja. Setelah selesai, ia lantas pulang tanpa beban.

Mendengar kabar ini Abrahah geram dan marah besar apa lagi ketika mengetahui bahwa orang yang buang besar dalam gerejanya ialah orang Arab. Abrahah kemudian memanggil semua menteri dan panglima perangnya dan memutuskan untuk menghancurkan Ka`bah.

Di sinilah prahara penghancuran Ka`bah di mulai. Kabar ini pun terdengar di seluruh jasirah Arab. Dan juga sampai ke telinga seorang Abu Hikmah yang tidak memeluk agama Abrahah namun ia merasa kasihan kepada Abrahah, tidakkah ia belajar dari para pendahulu yang berniat untuk menghancurkan Ka`bah namun mereka tertimpa azab dari Allah bahkan sebelum mereka dapat menyentuh Ka`bah sedikit pun.

Abu Hikmah mengetahui bahwa Abrahah adalah raja yang keras kepala dan selalu menghendaki keinginannya, oleh sebab itu ia memiliki taktik sendiri untuk menyadarkan Abrahah.

Tanpa menunggu waktu lama Abu Hikmah segera menemui Abrahah

"Paduka Raja yang mulia," kata Abu Hikmah di hadapan Abrahah, "Tuan telah memerintahkan dengan adil dan melindungi penduduk dari kejahatan. Hamba adalah pria Arab yang miskin kebetulan lewat di kota ini dan mendengar bahwa Tuan akan menghancurkan Ka`bah. Hamba tidak memeluk agama yang di peluk oleh Tuan, namun Hamba ingin membantu mewujudkan keinginan Tuan untuk menghancurkan Ka`bah"

Singkat cerita Abu Hikmah disambut baik Abrahah dan disuguhi makanan dan minuman. Akhirnya Abu Hikmah menjalankan rencananya untuk menghalangi rencana penghancuran Ka`bah.

Abu Hikmah menawarkan sebuah jalan pintas menuju Ka`bah yang dikatakannya aman dan lebih cepat sampai ke Ka`bah tanpa halangan sedikitpun. Padahal jalan yang dimaksudkan ialah jalan yang amat tandus. Di sepanjang perjalanan tidak ada air dan pepohonan untuk berteduh.

Abrahah segera menyiapkan pasukan besar dengan baris depan terdapat 13 ekor gajah. Abrahah mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Abu Hikmah. Akhirnya pasukan Abrahah memasuki daerah yang amat gersang dan persediaan air mereka hampir habis.

"Kemana engkau akan membawa kami wahai orang tua? Apakah kau akan membinasakan kami?"

Mengetahui jati dirinya terbongkar, Abu Hikmah mengatakan yang sesungguhnya, "Tuan, saya bukanlah orang Arab, saya adalah orang bijak yang berasal dari kota yang sama dengan Tuan, saya mengkhawatirkan keselamatan tuan, mengingatkan bahwa semua yang berusaha menghancukan Ka`bah pasti akan binasa. Setelah menjalani perjalanan yang panjang Tuan dapat mengurungkan niat untuk menghancurkan Ka`bah dan kembali pulang ke Yaman"

"Jadi engkau menipu dan menyesatkanku, wahai sampah?!"

"Tidak. Sebaliknya saya menyadarkan Tuan dan meluruskan Tuanku."

"Tangkap dia telanjangi dan pakaikan zirah besi padanya, ikat pada sebatang kayu, hingga ia mati terpanggang matahari! Inilah balasan bagi orang yang berusaha menipuku"

Abrahah kemudian kembali ke Yaman dengan membawa perasaan dengki dan semakin benci kepada Ka`bah, nafsu menghancukan Ka`bah semakin terpatri dalam jiwanya yang telah buta dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya.

Tidak sampai beberapa hari Abrahah memerintahkan panglima perangnya menyiapkan pasukan dan segera berangkat ke Ka`bah mengikuti jalan yang biasanya. Niatnya untuk menghancurkan Ka`bah semakin menjadi-jadi.

Dalam perjalanannya pasukan Abrahah sempat mencuri 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Abdul Muthalib tidak tinggal diam dan meminta untanya kembali tanpa membahas sedikitpun tentang Ka`bah.

Abrahah heran dengan tingkah Abdul Muthalib yang hanya meminta kembali untanya dan tidak mengungkit sedikitpun mengenai rencananya untuk menghancurkan Ka`bah.

Abdul Muthalib mengatakan bahwa unta itu adalah milikku dan sudah menjadi hakku untuk memintanya kembali sedangkan Ka`bah adalah rumah Tuhan dan Tuhan akan selalu menjaga rumahnya. Abrahah kemudian mengembalikan unta milik Abdul Muthalib. Namun, tidak disangka unta miliknya ini malah dihadiahkan kepada Abrahah secara suka rela.

Abdul Muthalib kemudian menemui kaum Quraisy dan meminta untuk mengosongkan Makkah. Abdul Muthalib mengamankan ornamen hiasan pintu Ka`bah. Sambil memunguti ornamen itu Abdul Muthalib berdoa "Wahai Tuhan hanya Engkau harapanku yang tersisa. Tuhan, cegahlah mereka dengan rencana-Mu yang perkasa"

Abdul Muthalib mengamankan ornamen hiasan pintu Ka`bah dan berlindung di gunung bersama dengan kaum Quraisy lainnya, menunggu dan mengamati apa yang akan dilakukan Abrahah setelah ia memasuki Ka`bah.

Keesokan paginya, Abrahah segera bersama prajurit bergajah segera berangkat memasuki Makkah. Salah seorang tentara Abrahah yang bernama Nafil bin Habib memagang telinga gajah dan berteriak pada gajah itu "Pulanglah dengan penuh kesadaran! Sekarang kamu telah berada di tanah suci Tuhan! Mendadak, Gajah tersebut duduk dan tidak mau bergerak. Kejadian ini membuat Nafil takut dan segera melarikan diri ke gunung"

Tentara lainnya kemudian memukul gajah itu agar bergerak, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil. Bahkan salah seorang tentara menusukkan pedang ke gajah tersebut agar bergerak namun tetap tidak berhasil. Ketika ia di hadapkan ke arah Yaman ia segera berdiri dan beranjak pergi. Namun ketika ia di hadapkan ke Makkah ia kembali duduk tak bergerak sedikitpun.

Saat itulah langit menjadi gelap. Jutaan burung Ababil terbang dari laut memenuhi angkasa. Setiap burung itu membawa tiga buah batu. Satu di paruh dan dua di cakarnya. Sesaat kemudian burung-burung tersebut menjatuhkan batu membara dan membunuh siapa saja yang dikenainya. Tentara Abrahah melarikan diri kembali ke Yaman. Meskipun beberapa pasukan selamat dari hujaman batu. Satu per satu dari mereka tewas dalam perjalanan kembali ke Yaman. Sedangkan Abrahah mati dengan sangat mengenaskan tubuhnya jatuh satu persatu, keadaannya sangat mengenaskan. Ia baru mati setelah hatinya jatuh keluar dari tubuhnya.

Inilah hukuman yang pantas diterima bagi orang-orang yang kufur kepada Allah swt. Dan dari kisah yang tercatat dalam al-Quran ini dapat memberikan kita keteguhan hati agar selalu tetap di jalan Allah hingga hari kemenangan tiba.

No comments:

Post a Comment

Daftar Isi